Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiAmsal 13:20 Tafsiran ayat Alkitab
Amsal 13:20 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Barangsiapa yang berjinak-jinakan dengan orang berbudi, iapun menjadi berbudi juga, tetapi taulan orang bodoh itu kelak akan binasa.
Amsal 13:20 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Amsal 13:20 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Amsal 9:6 (IDN) »
Tinggalkanlah segala kebodohan supaya kamu selamat, dan turutlah akan jalan akal budi.

Amsal 15:31 (IDN) »
Barangsiapa yang memberi telinga akan tegur selamat, ia itu boleh bermalam di antara orang yang berbudi.

Amsal 13:20 (IDN): “Barangsiapa yang berjinak-jinakan dengan orang berbudi, iapun menjadi berbudi juga, tetapi taulan orang bodoh itu kelak akan binasa.”
Perkataan bijaksana pengkhotbah Amsal menegaskan dampak kuat dari pergaulan. Hidup kita terwarnai oleh apa yang kita ikuti dan siapa yang menjadi teman akrab kita. Pergaulan dengan orang berbudi menjadi jalan pembentukan karakter, sementara pergaulan dengan orang bodoh membawa risiko kehancuran hidup moral maupun praktis.
Konteks sastra
Amsal 13 berada dalam kelompok nasihat moral yang menekankan disiplin diri, hikmat, dan etika sosial. Ayat ini menyoroti dinamika pengaruh sosial dalam komunitas: kunci kebijaksanaan adalah memilih teman yang membawa dampak positif. Pengulangan pola nasihat di kitab Amsal sering menegaskan bahwa komunitas kita membentuk kita, bukan sebaliknya.
Inti teologis
Nasihat ini menegaskan tanggung jawab pribadi dalam pertumbuhan rohani. Allah bekerja melalui kebijaksanaan manusia: melalui pertemanan yang benar, hikmat dipupuk; melalui persamaan dengan orang yang tidak menimbang nilai hidup, potensi moral bisa terkorupkan. Konteks Alkitabiah menampilkan pergaulan sebagai arena pembentukan karakter sesuai kehendak Tuhan.
Rangkaian silang (cross-references)
Penjelasan singkat: Ayat-ayat ini sejalan dengan prinsip bahwa kebiasaan dan lingkungan sekitar membentuk pola pikir dan tindakan, sehingga memilih teman yang tepat adalah bagian penting dari ketaatan kepada Tuhan.
Refleksi pribadi
Penafsiran praktis
Bergaul dengan orang berbudi tidak berarti menghindari semua pertemanan dengan orang yang berbeda pandangan. Maksudnya adalah membentuk komunitas yang saling membangun: memberi teladan yang baik, menjaga wibawa hati, dan menghindari pengaruh negatif yang menuntun ke pemborosan nilai atau perilaku yang bertentangan dengan hikmat Taurat dan ajaran Kristus.
Konklusi singkat
Nasihat ini menekankan bahwa pilihan pergaulan adalah bagian penting dari pertumbuhan rohani. Menjadi bijaksana berarti mengutamakan hubungan yang menguatkan karakter berbudi, sambil menjaga diri dari pengaruh yang menjerumuskan pada kebodohan dan kehancuran.
Rujukan singkat dari para komentator terdahulu
Secara umum, para penafsir seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menekankan bahwa hubungan sosial adalah sarana pembentukan karakter. Mereka menyoroti bahwa kebijaksanaan moral terlihat jelas dalam bagaimana kita memilih pertemanan dan bagaimana kita menjadi contoh bagi orang lain. (Catatan: kutipan langsung yang tepat dari karya mereka diminta hanya jika tersedia secara relevan; di sini, kami merangkum sikap umum mereka terhadap pengaruh pergaulan.)