Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiAmsal 5:1 Tafsiran ayat Alkitab
Amsal 5:1 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Hai anakku! perhatikanlah kiranya hikmatku, dan cenderungkanlah telingamu kepada akal budiku,
Amsal 5:1 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Amsal 5:1 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Amsal 22:17 (IDN) »
Cenderungkanlah telingamu dan dengarlah olehmu akan perkataan orang yang berbudi dan perhatikanlah pengajaranku;

Amsal 2:1 (IDN) »
Hai anakku! jikalau engkau menerima perkataanku serta menaruh hukum-hukumku dalam hatimu,

Amsal 4:20 (IDN) »
Hai anakku! perhatikanlah segala perkataanku dan cenderungkanlah telingamu kepada pengajaranku.
Amsal 5:1 (IDN) — Perhatian pada Hikmat
Ayat ini berada dalam bingkai nasihat penulis Amsal kepada anak-anak, khususnya mengenai bagaimana menjaga hati agar tidak terjerat oleh godaan yang mengarah pada dosa seksual. Pembuka menyiratkan pentingnya mendengar hikmat secara pribadi dan penuh perhatian. Perkataan ini menuntun pembaca untuk menimbang bagaimana akal budi dan hikmat membentuk pilihan hidup sehari-hari.
Gambaran Implikasi Iman dari Ayat Ini
Teks ini menekankan bahwa Allah menuntun manusia melalui hikmat-Nya. Perhatian telinga kepada akal budiman bukan sekadar mengikuti perasaan, melainkan menyelaraskan tindakan dengan hikmat ilahi. Hasilnya adalah hidup yang tenang di tengah godaan, karena nasihat bijak menuntun manusia pada integritas dan pemeliharaan diri dari kecelakaan moral.
Kata-kata Kunci dan Gambaran
Penjelasan singkat tentang arti pentingnya kata-kata ini
Hikmat di sini bukan sekadar pengetahuan, melainkan pemahaman hidup yang membentuk keputusan moral. Menempatkan telinga pada akal budiman berarti menahan diri dari impuls sesaat, dan memilih jalur yang moral, berlandaskan kebijaksanaan Tuhan.
Hubungan Alkitabiah yang Relevan
Beberapa bagian yang sejalan dengan tema ini: - Amsal 1:8–9 menekankan pentingnya mendengar bimbingan orang tua dan hikmat untuk keamanan hidup. - Mazmur 141:3 menunjukkan permintaan kepada Tuhan agar lidah dan langkah dijaga dari kejahatan, sejalan dengan menjaga perilaku melalui hikmat.
Renungan untuk Zaman Sekarang
Dalam budaya yang dipenuhi hasrat dan distraksi, ajaran ini mengajak pembaca untuk membangun kebiasaan mendengar hikmat—baik dari Firman Tuhan maupun nasihat yang berimbang. Prinsipnya: dengarkan, renungkan, dan jalankan dengan kebijaksanaan. Langkah praktisnya meliputi membaca Alkitab secara rutin, mencari nasihat orang bijak, dan bertekun dalam doa agar pemikiran dan tindak tanduk senantiasa selaras dengan akal budi yang berlandaskan kasih Allah.
Cross-references (singkat, dengan penjelasan singkat)
Quotations (dari para komentator publik domain, jika relevan):
Adam Clarke menekankan bahwa sapaan “Hai anakku!” menunjukkan kasih orang tua dalam menuntun anak ke kebijaksanaan hidup. Albert Barnes menekankan pentingnya mendengar nasihat sebagai bagian dari kepatuhan spiritual. Matthew Henry menyoroti bahwa hikmat berfungsi sebagai pelindung dari kecelakaan moral, mengarahkan kita untuk menimbang konsekuensi dari setiap pilihan.
Inti pesan ayat ini: ajakkan untuk mendengar hikmat dengan telinga yang fokus pada akal budi, agar langkah hidup tetap dalam jalur kebijaksanaan Allah.