Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Amsal 11:1 Amsal 11:2 Amsal 11:3 Amsal 11:4 Amsal 11:5 Amsal 11:6 Amsal 11:7 Amsal 11:8 Amsal 11:9 Amsal 11:10 Amsal 11:11 Amsal 11:12 Amsal 11:13 Amsal 11:14 Amsal 11:15 Amsal 11:16 Amsal 11:17 Amsal 11:18 Amsal 11:19 Amsal 11:20 Amsal 11:21 Amsal 11:22 Amsal 11:23 Amsal 11:24 Amsal 11:25 Amsal 11:26 Amsal 11:27 Amsal 11:28 Amsal 11:29 Amsal 11:30 Amsal 11:31



Amsal 11:1 (IDN) — Neraca yang Benar di Mata Tuhan
Dalam kitab Amsal, Allah menilai tidak hanya tindakan luar, tetapi juga dasar yang dipakai untuk menilai tindakan itu. Ayat ini menyatakan bahwa neraca yang salah adalah kebencian bagi Tuhan, sedangkan batu timbangan yang betul adalah kesukaannya. Maksudnya sederhana: keadilan Allah tidak dapat direka-reka dengan sewenang-wenang; Tuhan menginginkan penilaian yang lurus dan obyektif. Dalam konteks kebiasaan orang Bosan, Amsal menegaskan bahwa integritas dan kejujuran di balik perhitungan keuntungan dan kerugian (neraca) adalah inti dari hidup yang benar di hadapan-Nya.
Makna pokok
Inti ayat ini adalah perbandingan antara neraca yang salah dan neraca yang benar sebagai gambaran sikap hati manusia terhadap keadilan Allah. Neraca yang salah melambangkan penilaian yang korup, prasangka, atau kalkulasi moral yang tidak jujur. Tuhan membenci ketidakbenaran semacam itu. Sebaliknya, neraca yang betul berarti penilaian yang adil, integritas, dan kebenaran dalam urusan sehari-hari—termasuk perdagangan, hubungan, dan administrasi publik.
Tema-tema utama
Rujukan silang yang relevan
Beberapa ayat terkait yang menguatkan tema keadilan dan integritas:
Penafsiran singkat: Neraca yang benar bukan sekadar alat fisik, melainkan simbol dari sikap hati yang tidak menipu dan tidak menyeleweng nilai moral demi keuntungan pribadi.
Gambaran dari komentator klasik
Matthew Henry menekankan bahwa kecurangan dalam masalah timbangan adalah tanda kebutaan rohani, karena tutur kata dan perbuatan menyingkap siapa yang berkuasa atas urusan dunia. Albert Barnes menekankan pentingnya keadilan yang konsisten dalam perhitungan ekonomi sebagai cerminan ketaatan kepada Allah. Adam Clarke menambahkan bahwa penipuan dalam perdagangan adalah pelanggaran hak sesama manusia dan melibatkan kehancuran reputasi serta kebahagiaan komunitas. Ringkasnya, kejujuran adalah manifestasi kasih kepada Allah dan sesama.
Refleksi praktis
Inti penutup
Amsal 11:1 mengingatkan bahwa Allah menilai bagaimana kita menimbang hal-hal di sekitar kita. Neraca yang benar adalah simbol hidup yang jujur dan adil di hadapan Tuhan. Ketika kita memilih kejujuran dalam setiap perhitungan—besar maupun kecil—kita hidup sesuai dengan firman-Nya dan berkontribusi pada keadilan sosial yang lebih luas.