Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Amsal 14:1 Amsal 14:2 Amsal 14:3 Amsal 14:4 Amsal 14:5 Amsal 14:6 Amsal 14:7 Amsal 14:8 Amsal 14:9 Amsal 14:10 Amsal 14:11 Amsal 14:12 Amsal 14:13 Amsal 14:14 Amsal 14:15 Amsal 14:16 Amsal 14:17 Amsal 14:18 Amsal 14:19 Amsal 14:20 Amsal 14:21 Amsal 14:22 Amsal 14:23 Amsal 14:24 Amsal 14:25 Amsal 14:26 Amsal 14:27 Amsal 14:28 Amsal 14:29 Amsal 14:30 Amsal 14:31 Amsal 14:32 Amsal 14:33 Amsal 14:34 Amsal 14:35



Amsal 14:1
Inti tafsiran utama: Perempuan berbudi membangunkan rumah dengan hikmat, kerja keras, dan kasih; sebaliknya, perempuan bodoh merusaknya dengan pemborosan, ironi, dan keputusan gegabah. Ayat ini menekankan pengaruh keibuan, peran wanita dalam kehidupan rumah tangga, dan dampak moral yang luas dari pilihan sehari-hari.
Pandangan literatur dan konteks sastra
Amsal 14 secara umum membandingkan kebijaksanaan dengan kebodohan melalui pengamatan kehidupan sehari-hari. Ayat 1 menonjolkan pola rumah tangga sebagai arena pelaksanaan kebijaksanaan. Perempuan berbudi di sini dilihat sebagai agen utama dalam memelihara dan membangun keluarga—dengan tindakan yang sederhana namun konsisten, seperti merawat, menata, dan mengarahkan keharmonisan. Sebaliknya, “perempuan yang bodoh” digambarkan melalui keputusan yang merusak interior rumah—benturan antara keinginan sesaat dengan dampak jangka panjang bagi keluarga.
Signifikansi teologis
Tata kelola rumah tangga adalah cerminan dari kebijaksanaan yang tumbuh dari takut akan Tuhan. Ibarat pembentuk kebijakan rumah, kebijaksanaan mengarahkan anggota keluarga pada harmoni, kerja keras, dan integritas. Kebodohan, dalam konteks kitab Amsal, sering berupa kasih sayang yang dangkal terhadap disiplin, kurangnya pengelolaan sumber daya, atau kritik yang merusak. Nilai moralnya menekankan bahwa pelaksanaan orisinal dari tanggung jawab domestik bukan sekadar urusan pribadi, melainkan bagian dari karakter keseluruhan umat percaya.
Kaitan dengan bagian lain Kitab Suci
Hubungan ini menekankan bahwa kebijaksanaan diucapkan dalam tindakan sehari-hari, bukan hanya ide-ide abstrak, dan bahwa peran perempuan di rumah tangga sering menjadi barometer karakter spiritual keluarga.
Pertanyaan reflektif
Rujukan silang singkat
Beberapa bagian lain menyoroti tema yang sejalan:
Ringkasan penerapan praktis
Ayat ini mengajak pembaca untuk menilai cara kita membangun rumah—dengan kedisiplinan, kasih, dan kerja keras. Kebijaksanaan tampak dalam perencanaan keuangan, perawatan anggota keluarga, dan sikap yang membangun suasana saling menghormati. Kebodohan, sebaliknya, muncul ketika keputusan yang tidak dipikirkan menimbulkan kerusakan berulang. Rumah yang dibangunkan secara bijaksana menjadi laboratorium pembentukan karakter dan ibadah bagi semua anggota.
Kutipan dari tokoh komentar terdahulu (ringkas direkam)
Dalam tradisi tafsir publik domain, Matthew Henry menekankan bahwa kebijaksanaan praktis terlihat dalam pengelolaan rumah tangga; Albert Barnes menyoroti pentingnya tindakan kasih yang konsisten; Adam Clarke menghubungkan citra rumah tangga dengan disiplin hidup yang lebih luas. (Ringkasan inti isi para komentator; tidak menampilkan kutipan panjang penuh di luar konteks ini.)
Penutup
Ayat ini menyatakan kebenaran sederhana: rumah tangga tumbuh atau runtuh berbekal kebijaksanaan atau kebodohan. Peran perempuan berbudi di sini dilihat sebagai inti dari kestabilan keluarga, namun prinsip ini berlaku bagi semua anggota keluarga—gaya hidup yang meniru hikmat Allah membentuk rumah menjadi tempat berkat dan pembelajaran iman.