Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Pengkhotbah 1:1 Pengkhotbah 1:2 Pengkhotbah 1:3 Pengkhotbah 1:4 Pengkhotbah 1:5 Pengkhotbah 1:6 Pengkhotbah 1:7 Pengkhotbah 1:8 Pengkhotbah 1:9 Pengkhotbah 1:10 Pengkhotbah 1:11 Pengkhotbah 1:12 Pengkhotbah 1:13 Pengkhotbah 1:14 Pengkhotbah 1:15 Pengkhotbah 1:16 Pengkhotbah 1:17 Pengkhotbah 1:18



Pengkhotbah 1:1 (IDN)
Peng antarbauran kata-kata pembuka dalam Pengkhotbah memperkenalkan suara pengkhotbah yang menamai dirinya sebagai raja di Yeruzalem. Kalimat ini menegaskan konteks manusiawi dari pensyariatan hikmat dan pengamatan hidup: seorang pemimpin yang menyatakan diri sebagai “Khatib bin Daud” memulai pembahasan tentang kefanaan dan pencarian makna di bawah matahari.
Apa yang teks ini ungkap tentang Allah dan iman
Gambaran Pembuka ini menempatkan manusia dalam hubungan dengan kedaulatan Allah, meski sengaja menyoroti pengalaman duniawi. Dalam karya Pengkhotbah, Allah hadir sebagai latar universal di balik pergumulan manusia: pencarian makna, kerja keras, dan sikap pantang menyerah terhadap kepuasan yang tidak pernah cukup. Suara raja yang menamai dirinya mengundang pembaca untuk melihat bagaimana hikmat manusia berhadapan dengan kefanaan alam semesta, dan bagaimana iman menata orientasi hidup saat segala hal di bawah matahari akhirnya perlu ditimbang menurut tujuan ilahi.
Penjelasan kata dan citra penting
Hubungan dengan bagian lain Alkitab
Beberapa papan cross-reference membantu menempatkan Pengkhotbah 1:1 dalam bingkai kebijaksanaan Israel:
Refleksi praktis untuk masa kini
Ayat pembuka ini mengundang kita menyadari bahwa hikmat manusia tidak merangkum seluruh makna hidup. Dalam era modern, kita sering terpikat oleh pencapaian materi, status sosial, atau kepuasan sesaat. Pengkhotbah mengajak kita menempatkan semua perolehan di bawah penilaian tujuan ilahi: bagaimana hidup kita memuliakan Allah, bagaimana kita menjalani pekerjaan dengan integritas, dan bagaimana kita menjaga harapan yang menahan kefanaan. Perenungan ini menuntun iman pada sikap rendah hati—mengakui keterbatasan kita sambil menanti kehadiran Allah yang berdaulat di balik semua pergumulan.
Inti ajaran dan nasihat kontemporer
Beberapa prinsip utama yang bisa diambil:
Potongan pendek rujukan dari para komentator lama, bila relevan, disertakan secara ringkas tanpa mengubah makna teks asli.
Referensi silang: Amsal 1:1-6; Amsal 3:5-6; Pengkhotbah 3:1-8. Hubungan ini menolong kita melihat bahwa hikmat bukan hanya mengenai pemikiran, tetapi respons hidup kepada Allah yang berdaulat atas waktu dan tujuan di bawah langit.