Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Amsal 14:1 Amsal 14:2 Amsal 14:3 Amsal 14:4 Amsal 14:5 Amsal 14:6 Amsal 14:7 Amsal 14:8 Amsal 14:9 Amsal 14:10 Amsal 14:11 Amsal 14:12 Amsal 14:13 Amsal 14:14 Amsal 14:15 Amsal 14:16 Amsal 14:17 Amsal 14:18 Amsal 14:19 Amsal 14:20 Amsal 14:21 Amsal 14:22 Amsal 14:23 Amsal 14:24 Amsal 14:25 Amsal 14:26 Amsal 14:27 Amsal 14:28 Amsal 14:29 Amsal 14:30 Amsal 14:31 Amsal 14:32 Amsal 14:33 Amsal 14:34 Amsal 14:35



Amsal 14:10 (IDN): “Hati orang juga yang amat mengetahui kedukaannya sendiri dan orang lainpun tiada dapat merasai kesedapan sukacitanya.”
Ayat ini menekankan bahwa kedalaman perasaan batin seseorang bersifat pribadi. Kedukaannya dikenal sendiri, sukacitanya pun sering tidak dapat dirasakan oleh orang lain. Hikmat Amsal mengingatkan kita untuk tidak menilai permukaan saja: keadaan batin seseorang tidak selalu sejalan dengan penampilan luar.
Context literary
Dalam kitab Amsal, tema kedalaman hati dan penilaian hati orang lain sering muncul. Penekanan pada pengetahuan batin mengajak pembaca berhati-hati terhadap dugaan yang bersifat umum. Ayat ini menempatkan kedukaan sebagai sifat internal yang hanya dapat dirasakan sepenuhnya oleh diri sendiri, sementara sukacita seseorang bisa tampak bagi orang lain namun tidak selalu dimengerti secara utuh oleh mereka di sekelilingnya. Struktur bahasa menunjukkan kontras antara pengamatan eksternal dan realitas batin yang tidak terlihat.
Signifikansi teologis
Secara teologis, ayat ini mengarahkan kita pada empati yang seimbang: tidak menghakimi kedukaan orang lain berdasarkan penampilan semata. Demi kebijaksanaan, pembaca diajak percaya bahwa hanya Tuhan yang benar-benar memahami kedalaman hati, sementara manusia perlu merendahkan diri, menahan diri dari penilaian yang ngawur. Ayat ini juga mengingatkan kita bahwa sukacita manusia seringkali tidak sama dengan apa yang tampak di permukaan, karena semua orang membawa beban batin yang unik.
Cross-references singkat
Penjelasan singkat: Yeremia menegaskan kebohongan hati manusia, Matius menekankan kehati-hatian dalam menilai sesama, dan Ibrani menguatkan bahwa firman Allah sanggup mengungkap motif terdalam. Ketiganya memperkaya pemahaman ayat ini: kita perlu hati yang bijaksana dan rendah hati saat berinteraksi dengan sesama.
Tips refleksi
Kesimpulan singkat
Ayat ini menegaskan perbedaan antara penampilan luar dan kedalaman hati. Kebijaksanaan bijaksana menuntun kita untuk memperlakukan kedukaan dan sukacita orang lain dengan empati yang rendah hati, menyadari bahwa hanya Allah yang benar-benar mengenal kedalaman batin setiap manusia.
Catatan rujukan singkat: Kutipan langsung dari para komentator publik-domain dapat ditemukan dalam bentuk ringkas. (Matthew Henry, Albert Barnes, Adam Clarke) Contoh ide umum: empati sejati memerlukan pengakuan atas kedalaman batin manusia dan larangan menilai secara dangkal.