Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiAmsal 9:6 Tafsiran ayat Alkitab
Amsal 9:6 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Tinggalkanlah segala kebodohan supaya kamu selamat, dan turutlah akan jalan akal budi.
Amsal 9:6 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Amsal 9:6 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Amsal 13:20 (IDN) »
Barangsiapa yang berjinak-jinakan dengan orang berbudi, iapun menjadi berbudi juga, tetapi taulan orang bodoh itu kelak akan binasa.

Amsal 4:11 (IDN) »
Bahwa aku mengajar engkau akan jalan hikmat, aku memimpin akan dikau pada jalan yang betul.

Amsal 8:35 (IDN) »
Karena barangsiapa yang mendapat aku, ia itu mendapat selamat serta beroleh keridlaan dari pada Tuhan.
Amsal 9:6 dalam Terang Hikmat
Amsal 9:6 mengajak kita berpaling dari kebodohan dan membenamkan diri dalam jalan akal budi. Ayat ini menyoroti pilihan hidup: apakah kita akan mengikuti jejak yang membawa kebingungan dan merugikan, atau mengikuti jalan hikmat yang memulihkan hubungan dengan Tuhan serta sesama. Bagi pembaca Indonesia, pesannya relevan sepanjang masa: kebodohan bisa menjerumuskan kita ke dalam keputusan yang merugikan masa depan, sementara penyerahan pada hikmat Allah membawa keselamatan dan pemulihan.
konteks asli dan pesan utama
Ayat ini muncul dalam bagian pengajaran yang membandingkan dua meja hidangan: meja kebodohan yang menggoda dengan ajakan pesta palsu dan meja hikmat yang menawarkan pemahaman sejati. Maksud penulis Amsal adalah menantang pembaca untuk memilih jalan yang benar di tengah godaan dunia—yaitu berjalan dalam akal budi yang mengikuti kehendak Tuhan. Di dalam konteks kebudayaan Asia Timur, ajakan untuk meninggalkan kebodohan berarti melepaskan pola pikir yang mengukur segala sesuatu hanya dari keuntungan seketika, dan menggantinya dengan penalaran yang berlandaskan takut akan Tuhan, yakni sumber hikmat sejati.
pesan pokok
Poin utama ayat ini adalah keputusan sadar untuk meninggalkan kebodohan dan menerima akal budi. Hikmat bukan sekadar pengetahuan, melainkan cara hidup yang menghasilkan perbuatan benar. Ketika seseorang memilih jalan akal budi, ia melatih diri untuk menimbang pilihan secara moral, menghindari jebakan godaan, dan membangun kehidupan yang berlandaskan integritas.
tema alkitabiah terkait
silang rujukan penting
Beberapa ayat sepadan untuk memperdalam pemahaman:
Para komentator publik domain seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menekankan bahwa hikmat yang dimaksud bukan sekadar kepandaian duniawi, melainkan bimbingan ilahi yang menuntun hidup kepada keadilan, kebenaran, dan keselamatan. Mereka menyoroti bahwa ajakan "tinggalkan kebodohan" adalah panggilan untuk meninggalkan pola hidup yang menipu dan merusak, serta membuka diri pada pembelajaran terus-menerus di hadapan Allah.
Beberapa pernyataan singkat dari para komentator publik domain yang relevan menekankan bahwa hikmat yang dinilai sebagai akal budi berhubungan dengan kedewasaan rohani dan disiplin hidup yang mengikuti kehendak Tuhan. (Catatan: tidak mengutip teks lengkap karya asli di luar konteks ayat ini.)
Untuk pembaca masa kini, ayat ini mengundang refleksi pribadi: apa kebodohan yang masih menarik perhatianmu? Bagaimana kamu dapat memperbarui pola pikir dengan hikmat yang berasal dari Tuhan? Latihlah diri untuk meminta petunjuk-Nya dalam keputusan sehari-hari, besar maupun kecil, dan mulailah dengan langkah-langkah konkret: doa singkat sebelum membuat pilihan, merenungkan akibat jangka panjang, serta mencari nasihat bijak dari orang-orang saleh di sekitarmu.
Tuntunlah hatimu kepada jalan akal budi setiap pagi. Mintalah limpahan hikmat dari Tuhan, agar setiap keputusanmu menyalakan terang kasih-Nya dalam hidupmu dan dalam hidup orang lain. Dengan demikian, kebodohan tidak lagi menipu, dan keselamatan perlahan-lahan membangun rumah hidupmu.