Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiAmsal 9:7 Tafsiran ayat Alkitab
Amsal 9:7 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Barangsiapa yang menegurkan orang pengolok-olok, ia itu mendapat malu bagi dirinya sendiri, dan orang yang menggusar akan orang jahat itu mendapat cela bagi dirinya sendiri.
Amsal 9:7 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Amsal 9:7 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Amsal 15:12 (IDN) »
Bahwa orang pengolok-olok tiada suka kalau orang menegurkan dia; dijauhkannya dirinya dari pada orang yang berbudi.

Amsal 23:9 (IDN) »
Janganlah engkau berkata-kata, sehingga kedengaranlah katamu kepada orang bodoh, karena dicelakannya kelak budi perkataanmu.

2 Tawarikh 36:16 (IDN) »
Tetapi diolok-olok mereka itu akan utusan Allah itu dan dicelakannya segala perkataannya dan ditertawakannya segala nabinya, sehingga kehangatan murka Tuhan bertambah-tambah begitu, sampai ia itu tiada terpadamkan lagi.
Amsal 9:7 (IDN): Menghormati yang Bijak atau Menghadapi Malu
Ayat ini menaruh fokus pada pilihan kita ketika menilai orang. Bila kita menegurkan orang yang mengejek, kita mungkin menambah jumlah orang yang akan malu. Sebaliknya, merespons kejahatan dengan kemarahan dapat memperuncing cela pada diri sendiri. Ayat ini menyingkap pola moral yang konsisten: tindakan mengolok-olok membawa konsekuensi sosial dan spiritual, sementara kehentian hati yang benar menghadirkan integritas di hadapan sesama dan Allah.
konteks asli dan makna utama
Penulis Amsal menaruh perhatian pada dua jalan hidup: jalan kebijaksanaan dan jalan kebodohan. Dalam konteks kebanyakan nasihat ayat-ayat prologik kitab Amsal, orang yang “menegurkan orang pengolok-olok” menunjukkan kedengkian hati dan keangkuhan; responsnya adalah malu bagi dirinya sendiri karena tindakan merendahkan orang lain akan memunculkan pembalasan logis dari lingkungan dan dari Tuhan. Begitu pula, orang yang “menggusar akan orang jahat” mencerminkan kecenderungan untuk menuduh atau menjelekkan orang lain dengan motivasi membenarkan diri sendiri. Perilaku seperti itu memperlihatkan karakter yang rapuh dan menimbulkan cela bagi diri sendiri di hadapan sesama dan di hadapan Allah.
pesan pokok
tema Alkitab dan pandangan para komentator (singkat)
Beberapa ahli Alkitab berpendapat bahwa nasihat ini menekankan konsekuensi moral dari ucapan dan perilaku kita terhadap sesama. Pengajar seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menafsirkan ayat ini sebagai peringatan terhadap sifat merendahkan orang lain dan meneguhkan pentingnya mengelola kata-kata serta tindakan dengan kebijakan. Mereka menonjolkan gagasan bahwa kecaman terhadap orang lain sering mencerminkan keadaan batin yang rapuh dan bisa kembali menimpa diri sendiri.
cross-references yang relevan
Beberapa ayat yang relevan untuk memperluas pemahaman kita:
Hubungan-hubungan ini memperlihatkan bahwa ajaran Amsal 9:7 tidak berdiri sendiri; ia mengaitkan cara kerja hati dengan dampak sosial, dan bagaimana Kristus memurnikan mulut kita agar membawa damai, bukan cela.
refleksi devosional
Renungkan bagaimana kita menanggapi kritik atau ejekan orang lain. Apakah kita cenderung menegurkan mereka yang berbeda pandangan, atau yang dianggap “lebih rendah”? Biarkan kasih Kristus membentuk cara kita berbicara: mengutamakan kebaikan, menghindari merendahkan sesama, dan menilai tindakan dengan adil. Semakin kita menahan diri dari tindakan mengolok-olok, semakin jelas karakter Kristus terlihat dalam hidup kita, sehingga kita tidak membawa malu bagi diri sendiri maupun bagi Allah.
catatan singkat tentang sumber pandangan
Catatan ini merefleksikan arah umum para komentator abad lalu seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke dalam menimbang nuansa moral ayat ini, dengan menjaga fokus pada konteks kitab Amsal dan esensi kebijaksanaan Yahudi-Kristen.