Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiAmsal 9:15 Tafsiran ayat Alkitab
Amsal 9:15 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
akan memanggil segala orang yang lalu dari pada jalan itu dan yang berjalan pada jalan yang betul.
Amsal 9:15 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Amsal 9:15 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Amsal 23:27 (IDN) »
karena seorang perempuan sundal itu laksana parit yang dalam, dan seorang perempuan jalang seperti perigi yang sempit.

Amsal 7:25 (IDN) »
Janganlah singgah hatimu kepada jalan perempuan itu, janganlah kamu hanyut kepada lorong-lorongnya;

Amsal 7:13 (IDN) »
Maka ditangkapnya akan orang muda itu, diciumnya akan dia, maka dengan muka tebal ia berkata kepadanya demikian:
Amsal 9:15 (IDN): “akan memanggil segala orang yang lalu dari pada jalan itu dan yang berjalan pada jalan yang betul.”
Tinjauan Pembaca
Amsal 9 menampilkan dua pesta tamu bijaksana: pesta hikmah yang memanggil lewat undangan hayat benar, dan pesta kebodohan yang menipu dengan rayuan. Ayat 15 menempatkan tamu yang memanggil di pintu gerbang kebijaksanaan, mengundang mereka yang telah menakar jalan hidup mereka sendiri untuk memasuki jalan yang benar. Ini adalah panggilan yang tegas namun penuh harapan: ada opsi untuk memilih jalan yang lurus meski berada di hadapan kita.
Ayat dalam konteks pasal
Dalam konteks Amsal 9, dua tokoh digambarkan sebagai pengundang: Wanita bijaksana yang menyiapkan hidangan dan memanggil di pintu, serta wanita bodoh yang juga berseru di kota, menawari jalan yang keliru. Ayat ini fokus pada pihak yang benar, yaitu jalan yang betul, dan bagaimana mereka yang telah berjalan di jalan yang salah dapat diarahkan kembali. Panggilan tersebut tidak bersifat paksa, melainkan penawaran kebijaksanaan yang dapat diterima atau ditolak.
Sarasian inti (Gagasan utama)
Rujukan Alkitab terkait
Beberapa ayat menegaskan tema pilihan antara jalan benar dan jalan sesat:
Pemahaman dari tokoh-tokoh teolog berlalih (ringkas)
Gagasan dari tafsiran klasik menekankan bahwa panggilan kebijaksanaan adalah undangan persahabatan dengan Tuhan melalui hidup yang saleh. Para komentator berbahasa Indonesia menekankan bahwa pilihan manusia adalah respons iman terhadap undangan tersebut, bukan otomatis. Kehati-hatian terhadap godaan memikat di jalan kebodohan menjadi fokus yang relevan bagi pembaca modern.
Aplikasi praktis
Kalau kita berada di pintu kebijaksanaan, bagaimana kita merespons?
Penguatan melalui pandangan para komentator lama
Ringkasan dari rujukan klasik menunjukkan bahwa panggilan kebijaksanaan bersifat praktis: hidup yang benar membawa kedamaian, tata krama moral, dan perlindungan ilahi. Jika ada kutipan singkat yang relevan (dari Matthew Henry, Albert Barnes, atau Adam Clarke) akan dicatat di bagian ini apabila tersedia secara publik-domain:
Catatan: Jika kutipan langsung tersedia, akan dicantumkan dengan jelas di bagian ini.
Kaitan silang yang relevan
Beberapa referensi saling menguatkan tema panggilan kebijaksanaan:
Ringkasan
Amsal 9:15 menegaskan bahwa kebijaksanaan mengundang setiap orang untuk meninggalkan jalan yang keliru dan memilih jalan yang betul. Panggilan ini tidak mendikte, melainkan menawarkan pilihan moral yang berdampak pada hidup sekarang maupun kekekalan. Melalui keputusan kita, kita menanggapi kasih Tuhan yang menuntun kita menuju hidup yang lebih berarti dan benar di hadapan-Nya.