Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiAmsal 9:14 Tafsiran ayat Alkitab
Amsal 9:14 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Maka iapun duduk pada pintu rumahnya dan kedudukannya adalah di tempat yang tinggi dalam negeri,
Amsal 9:14 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Amsal 9:14 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Amsal 9:3 (IDN) »
Telah disuruhkannya dayang-dayangnya pergi menjemput orang di atas tempat yang tinggi dalam negeri,

Amsal 7:10 (IDN) »
Lalu bertemulah ia dengan seorang perempuan yang berpakaikan perhiasan sundal dan hatinya pandai menipu.
Makna Singkat Ayat
Ayat Amsal 9:14 menyatakan bahwa seseorang duduk di pintu rumahnya, bersiap menerima tamu dengan posisi yang menonjol di dalam negeri. Gambaran ini menekankan keinginan untuk mempengaruhi orang-orang yang melintas dan menawarkan nasihat, gurauan, atau ajakan yang menarik dari tempat yang strategis dan terlihat.
Latar Belakang Kontekstual
Kitab Amsal menampilkan dua figur utama sebagai gambaran pilihan hidup: Hikmat yang mengundang lewat pintu gerbang kebijaksanaan, dan Iblis yang menipu melalui jalan yang tampak menarik namun menjerat. Dalam kultur kuno, berada di pintu rumah berarti berada di pusat aktivitas publik, siap memberi nasihat atau mempengaruhi orang yang lewat. Ayat ini melanjutkan pola perumpamaan Hikmat yang datang dengan cara yang atraktif, tetapi pesan pentingnya adalah memilih jalan kebijakan dan integritas, bukan tipu daya yang menjanjikan kemudahan sementara.
Pandangan Interpretatif
Amsal 9 menggambarkan dua rumah: rumah Hikmat dan rumah Kebodohan. Imani dalam ayat ini adalah orang yang duduk di pintu rumahnya—bukan karena keperluan praktis, melainkan karena sikap menyapa publik dengan ajakan yang bisa menyesatkan. Adapun figur ini mewakili tawaran yang memikat tetapi berujung pada kemerosotan bila diikuti tanpa pertimbangan. Penempatan posisi tinggi menunjukkan upaya memegang kendali warta dan pengaruh, tetapi juga mengingatkan bahwa panggilan untuk mengundang rekan-rekan berjalan di jalur yang benar.
Inti-Poin (ringkasan tematik)
Kalimat-Kalimat Penolong dari Penafsir/Pendapat Terpercaya
Beberapa penafsir klasik menekankan bahwa gambar duduk di pintu rumah menggambarkan kesiapan menyerbu dengan ajaran yang menggiurkan. Mereka menekankan pentingnya membedakan hikmat sejati dari tipu daya yang hanya menampilkan dirinya sebagai pilihan menarik.
Catatan singkat: Kutipan langsung pendek yang relevan dari figur-figur klasik berikut tidak diambil secara utuh di sini, namun arah pikirannya membantu memahami konteks ayat:
Rujukan Silang yang Relevan
Pengajaran Praktis yang Terbatas
Dalam hidup sehari-hari, ajakan yang datang dari depan pintu—baik secara literal maupun figuratif—perlukan penilaian yang matang. Jangan mudah menerima tawaran yang tampak menggiurkan tanpa memeriksa motif, sumber, dan dampaknya terhadap iman serta integritas pribadi. Minta hikmat Allah melalui doa dan studi Firman sehingga kita bisa membedakan tindakan yang membawa kemuliaan bagi Tuhan dari ajakan yang menjerumuskan.
Penutup Ringkas
Amsal 9:14 mengingatkan kita bahwa daya tarik dunia bisa terlihat menonjol, tetapi kunci kebijaksanaan adalah menilai motif dan tujuan di balik setiap ajakan. Hidup dalam Hikmat Allah berarti memilih jalur yang menjaga kemuliaan-Nya dan memberi manfaat nyata bagi sesama.