Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiAmsal 9:17 Tafsiran ayat Alkitab
Amsal 9:17 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Bahwa air curian itu manis rasanya dan roti larangan itu sedap.
Amsal 9:17 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Amsal 9:17 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Amsal 20:17 (IDN) »
Kendatilah roti tipu daya itu manis rasanya, kemudian kelak mulut dipenuhi dengan batu kelikir.

Amsal 23:31 (IDN) »
Jangan engkau pandang akan air anggur apabila merah rupanya, apabila ia berkilat dalam piala serta buihnya naik ke atas.

Amsal 30:20 (IDN) »
Adapun hal perempuan berzinah, ia itu demikianlah adanya: maka iapun makan lalu disapunya mulutnya sambil katanya: Tiada aku berbuat jahat!
Amsal 9:17 (IDN) — “Air curian itu manis rasanya dan roti larangan itu sedap.”
Ayat ini menggambarkan tipu daya hikmat palsu yang menawari kenikmatan sesaat di balik dosa yang menjanjikan kepuasan. Perumpamaan di belakangnya menunjukkan bagaimana ajaran menyesatkan bisa terdengar menggoda karena menyasar impuls manusia: keinginan untuk segera memenuhi kebutuhan atau keinginan yang dianggap rahasia. Namun, ajaran ini memperingatkan bahwa kenikmatan yang ditawarkan semu dan berakhir pada jerat kemurkaan, karena pelanggaran membawa konsekuensi rohani yang lebih besar daripada kenikatan sementara.
konteks sastra dan maksud pengajaran
Amsal 9 berperan sebagai pemandu antara dua jalan: jalan hikmat dan jalan bodoh. Ayat 17 muncul sebagai peringatan dari hikmat (wali kata hikmat) terhadap daya tarik “air curian” dan “roti larangan” yang diberi kemanisan di mulut, menunjukkan bagaimana godaan beroperasi lewat persepsi kenikmatan. Penggunaan metafora makanan dan minuman memperkuat kenyataan bahwa hal-hal yang melanggar perintah Allah bisa dinilai menarik bagi manusia yang lapar akan keamanan dan kepuasan pribadi. Namun, penilaian moral pada akhirnya menegaskan konsekuensi yang merugikan bagi jiwa yang terpedaya.
pandangan para komentator klasik
Para penafsir publik-domain seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menekankan tema berikut: godaan sering datang dengan janji kepuasan yang tampak memikat, tetapi inti ajaran di sini adalah kehendak yang benar menolak “kenikmatan yang membinasakan.” Henry menyoroti bahwa tipu daya tidak selalu muncul sebagai keburukan eksplisit; sering ia hadir dalam suasana “ rasa manis” yang menutupi bahaya dosa. Barnes menambahkan bahwa peringatan ini juga menyinggung integritas manusia yang mencari kepuasan selain kebenaran Allah. Clarke menegaskan bahwa ajaran ini mengajak pembaca untuk menilai apa yang benar menurut firman Tuhan, bukan hanya apa yang terasa enak secara lahiriah. (Kutipan singkat maksud para komentator ditempatkan sesuai bagian terjemahan publik-domain.)
cross-references yang relevan
Penjelasan singkat hubungan: Amsal 5:3-4 menunjukkan kedalaman tipu daya yang tampak manis. Ibrani 11:25 menampilkan kontras antara kenikmatan fana dan kebijaksanaan Allah yang memberikan kekuatan untuk bertahan. 1 Korintus 10:13 menegaskan bahwa Tuhan menyediakan jalan keluar dari pencobaan, bukan peninggalan kenikmatan yang melanggar.
pertanyaan refleksi
kesimpulan singkat
Ayat ini menuntun pembaca untuk waspada terhadap tipu daya yang datang dalam rupa kenikmatan. Hikmat ilahi mengajak kita menilai kembali apa yang benar di hadapan Tuhan, meskipun itu berarti menolak janji-janji yang hanya memberi kepuasan sesaat. Keberanian untuk menolak “air curian” adalah bagian dari hidup saleh yang berpegang pada perintah Allah.
Catatan kutipan para komentator klasik: Matthew Henry menekankan bahayanya godaan yang disamarkan dalam kenikmatan; Albert Barnes menekankan perlunya menilai sumber kenikmatan; Adam Clarke menekankan pentingnya mengutamakan firman Tuhan atas keinginan dunia. (Kutipan langsung tidak disertakan secara penuh karena batasan teks publik-domain; ringkasannya di atas merangkum pandangan mereka.)