Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiMatius 1:8 Tafsiran ayat Alkitab
Matius 1:8 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
dan Asa memperanakkan Yosapat; dan Yosapat memperanakkan Yoram; dan Yoram memperanakkan Uzia;
Matius 1:8 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Matius 1:8 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

1 Raja-raja 22:2 (IDN) »
Tetapi pada tahun yang ketiga, tatkala Yosafat, raja orang Yehuda itu, turun mendapatkan raja orang Israel,

1 Raja-raja 15:24 (IDN) »
Maka raja Asapun mangkatlah beradu dengan segala nenek moyangnya dan dikuburkan oranglah akan dia pada sisi nenek moyangnya dalam negeri Daud, moyangda baginda; maka Yosafat puteranyapun naik raja menggantikan dia.

Inti Pokok Interpretasi
Matius 1:8 mencatat kesinambungan garis keturunan raja-raja Israel dengan menyingkap silsilah Yosia melalui Asa, Yosafat, Yoram, hingga Uzia. Ayat ini menegaskan bahwa Allah menjaga janji-Nya melalui garis keturunan raja, meski bangsa itu sering gagal taat. Dalam konteks kelahiran Kristus, silsilah ini menekankan bahwa Sang Mesias datang dari pewaris tahta Israel, bagian dari rencana surgawi yang berakar pada masa para leluhur bangsa.
Konteks Sastra
Bagian ini berada dalam rangkaian silsilah Matius yang menguraikan garis keturunan Yesus dari Abraham lewat Daud hingga Yusuf, suami Maria. Ayat-ayat seperti ini menekankan legitimasi ilahi terhadap jabatan Mesias dan menunjukkan bahwa Allah memimpin sejarah umat-Nya melalui manusia biasa, lengkap dengan kekuatan, kelemahan, dan pilihan mereka.
Makna Teologis
Asa, Yosafat, Yoram, dan Uzia adalah bagian dari dinasti Yehuda yang mengalami pasang surut iman. Namun, penempatan nama mereka menegaskan pemeliharaan Allah atas janji-Nya kepada Daud: suatu cabang akan tetap bertahan sampai Mesias muncul. Ketekunan raja-raja ini tidak selalu nyata di hadapan Tuhan, tetapi rencana-Nya tidak tergoyahkan. Hal ini menyiapkan latar bagi penggenapan nubuat dan kedatangan Kristus sebagai Raja damai yang memikul tugas memulihkan umat-Nya.
Pemikiran dari Tokoh-Tokoh Perumus Klasik
Beberapa komentar klasik menyoroti bagaimana Matius memilih untuk menuliskan silsilah dengan fokus teologis: bukan sekadar genealogis, melainkan jalur pemenuhan janji. Catatan dari komentator publik-domain menambah gambaran bahwa nama-nama tersebut menandai kesinambungan karya Allah melalui sejarah Israel, meskipun tidak semua raja mendapat pujian karena ketidaktaatan mereka.
Rujukan Lintas Alkitab
Pertanyaan Renungan
Penutup Ringkas
Ada garis besar rencana ilahi yang tidak bergantung pada kesempurnaan manusia. Melalui Asa, Yosafat, Yoram, dan Uzia, Allah menunjukkan kesetiaan-Nya menjaga garis keturunan yang membawa kepada kedatangan Sang Mesias. Silsilah ini menghubungkan masa lalu dengan pemenuhannya di dalam Kristus, menegaskan bahwa umat percaya turut terlibat dalam narasi besar Allah: pemulihan dunia melalui Raja yang benar.
Cuplikan pandangan para komentator lama diungkapkan secara ringkas: “Janji Allah tidak tergantung pada kehendak manusia, melainkan pada rencana-Nya yang tetap.” (kutipan ringkas dari para komentator klasik, tanpa menyalin kutipan panjang). Jika ragu, periksa referensi klasik seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke untuk nuansa interpretatif, tanpa mengubah inti konteks pada ayat ini.