Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiImamat 3:17 Tafsiran ayat Alkitab
Imamat 3:17 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Maka inilah suatu hukum yang kekal di antara kamu turun-temurun pada segala tempat kejadianmu; baik lemak baik darah, janganlah kamu makan dia.
Imamat 3:17 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Imamat 3:17 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Ulangan 15:23 (IDN) »
Sahaja darahnya jangan kamu makan, melainkan cucurkanlah dia kepada bumi seperti air.

Ulangan 12:23 (IDN) »
Sahaja peliharakanlah dirimu dari pada makan darah, karena darah itulah jiwa, maka tak boleh kamu makan daging dengan jiwanya.

Imamat 3:17 (IDN): Hukum Kekal mengenai Lemak dan Darah
Bab Imamat 3 membahas persembahan kerelaan damai bagi korban-korban hayati umat Israel. Ayat 17 menegaskan sebuah hukum yang bersifat kekal mengenai bagian tertentu dari persembahan: tidak boleh dimakan lemak maupun darah. Pesan ini menyoroti kehendak Allah atas kemurnian ibadah dan ketaatan pada tata cara korban yang menunjuk kepada Kemuliaan-Nya dan pada akhirnya kepada pemurnian manusia melalui hubungan dengan-Nya.
Ayat dalam konteks pasal
Pasal ini mengatur persembahan damai setelah korban-korban baki semalam. Penggunaan bagian tertentu dari hewan persembahan menekankan bahwa ibadah tidak bisa disamakan dengan konsumsi biasa; bagian-bagian yang dipandang pemberian khusus bagi Allah dipakai untuk-Nya, sementara hal-hal yang dihindari menjaga kemurnian praktik ibadah. Ayat 17 menegaskan bahwa hukum ini berlaku turun-temurun di segala tempat kejadian umat, menunjukkan universalisasi tata cara persembahan yang tidak berubah karena lokasi atau keadaan budaya.
Pokok hikmat rohani
Catatan tafsiran singkat (sumber-sumber tepercaya yang bersifat publik-domain)
Beberapa pandangan klasik menggarisbawahi bahwa larangan ini menekankan rasa hormat umat terhadap bagian-bagian persembahan yang diarahkan kepada Allah. Para penafsir seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menekankan bahwa regulasi ini menuntun umat pada pemurnian hidup secara umum: bukan sekadar ritual semata, namun juga sikap kudus dalam kehidupan sehari-hari. (Catatan singkat: kutipan langsung akan ditampilkan jika sesuai dengan bagian yang diizinkan.)
Rujukan silang yang relevan
Beberapa ayat terkait yang menambah pemahaman:
Penjelasan singkat: Ketiga rujukan ini mendukung gagasan bahwa perihal darah dan lemak adalah bagian dari pola ibadah yang menuntut kekudusan dan pemisahan dari konsumsi biasa sebagai bagian dari penyembahan kepada Allah.
Aplikasi praktis
Dalam konteks iman Kristen-teistik (tetap relevan untuk pembaca Alkitabiah), ayat ini mengingatkan kita bahwa pemujaan yang benar membutuhkan kemurnian hati dan kepatuhan pada prinsip-prinsip yang telah ditetapkan Allah. Meskipun kita tidak lagi melakukan korban hewan secara ritual di masa kini, prinsipnya tetap hidup: hormatilah pusat-pusat ibadah, jagalah integritas pengabdian kepada Tuhan, dan hindari penyalahgunaan elemen-elemen iman untuk kepentingan pribadi atau ragam budaya yang bertentangan dengan firman-Nya.
Ringkasan
Imamat 3:17 menegaskan hukum kekal terkait bagian persembahan yang tidak boleh dimakan, yakni lemak dan darah. Ayat ini menegaskan kemurnian ibadah dan ketaatan yang tidak tergantung lokasi maupun budaya. Dengan demikian, ibadah berkenan kepada Allah ketika umatnya menjaga kemurnian ritual dan sikap hidup kudus dalam segala aspecto kehidupan.