Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiImamat 3:7 Tafsiran ayat Alkitab
Imamat 3:7 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Maka jikalau anak domba yang dipersembahkannya akan korban, maka hendaklah ia itu dibawanya ke hadapan hadirat Tuhan.
Imamat 3:7 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Imamat 3:7 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

1 Raja-raja 8:62 (IDN) »
Arakian, maka oleh baginda dan segenap orang Israelpun sertanya dipersembahkan korban sembelihan di hadapan hadirat Tuhan.

Imamat 17:8 (IDN) »
Maka katakanlah olehmu kepada mereka itu: Barangsiapa dari pada isi rumah Israel dan dari pada segala orang dagang, yang duduk menumpang di antaranya, apabila dipersembahkannya suatu korban bakaran atau korban sembelihan,

Imamat 3:1 (IDN) »
Arakian, maka jikalau persembahannya suatu korban syukur dan jikalau dipersembahkannya dari pada segala lembu, maka hendaklah ia itu seekor jantan atau seekor betina; maka janganlah ia itu ada celanya apabila dipersembahkannya itu di hadapan hadirat Tuhan.
Imamat 3:7 (IDN): Setting dan inti persembahan domba jantan
Perikop ini berada dalam bagian hukum tentang persembahan dari hewan damai sejahtera. Ayat tersebut menjelaskan prosedur membawa korban kambing domba yang dipersembahkan ke hadapan hadirat Tuhan. Dalam konteks Imamat 1–3, korban damai dipersembahkan sebagai ungkapan syukur, persetujuan damai, dan persekutuan dengan Allah. Ayat ini menekankan aktivitas ibadah yang konkret: tindakan membawa korban kepada Allah, menginsafkan bahwa penyembahan adalah partisipasi manusia dalam hadirat-Nya.
Apa yang diungkapkan teks tentang Allah dan iman
Tidak ada sekadar ritual kosong; membawa korban ke hadapan Tuhan menegaskan bahwa Allah mengundang umat-Nya untuk berhadapan langsung dengan-Nya dalam ibadah. Allah dipandang sebagai pribadi yang dapat ditemui, bukan sekadar objek ritual. Persembahan yang dibawa ke hadirat-Nya menyiratkan hubungan pribadi: ada pengakuan dosa, syukur atas kasih-Nya, dan komitmen untuk hidup dalam persekutuan dengan-Nya.
Membantu memahami kata-kata kunci
Rujukan silang terkait
Nilai praktis untuk iman saat ini
Ada ajaran yang bisa dipakai: penyembahan tidak berhenti pada tindakan fisik, tetapi mengarahkan hati untuk berhadapan dengan Tuhan dengan sikap syukur, kerendahan hati, dan kehidupan yang berkenaan dengan kehendak-Nya. Ketika kita membawa persembahan—bisa saja bentuk waktu, perhatian, atau kasih bagi sesama—kita mengingatkan diri bahwa Tuhan ingin menjadi bagian dari keseharian kita dan menuntun kita dalam damai sejahtera-Nya.
Penutup: gagasan utama
Ayat ini menegaskan bahwa penyembahan sejati melibatkan tindakan nyata yang membawa kita lebih dekat kepada hadirat Allah. Melalui korban damai, umat diingatkan akan kesetiaan Tuhan dan panggilan untuk hidup dalam persekutuan dengan-Nya. Dalam konteks kekristenan modern, prinsip inti tetap: umat dipanggil untuk menghampiri Allah dengan iman, syukur, dan hidup yang mencerminkan Damai Sejahtera yang diwakili oleh Kristus.
Cuplikan singkat dari komentar kuno: Para komentator publik-domain seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menekankan bahwa persembahan adalah simbol hubungan dengan Allah dan integritas iman yang praktis. Mereka menegaskan bahwa ibadah melibatkan hati yang benar, bukan hanya ritus luar. (Catatan: kutipan langsung singkat akan dicantumkan bila tersedia.)