Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Amsal 31:1 Amsal 31:2 Amsal 31:3 Amsal 31:4 Amsal 31:5 Amsal 31:6 Amsal 31:7 Amsal 31:8 Amsal 31:9 Amsal 31:10 Amsal 31:11 Amsal 31:12 Amsal 31:13 Amsal 31:14 Amsal 31:15 Amsal 31:16 Amsal 31:17 Amsal 31:18 Amsal 31:19 Amsal 31:20 Amsal 31:21 Amsal 31:22 Amsal 31:23 Amsal 31:24 Amsal 31:25 Amsal 31:26 Amsal 31:27 Amsal 31:28 Amsal 31:29 Amsal 31:30 Amsal 31:31

Amsal 31:7 (IDN) – “Biarlah ia minum serta melupakan celakanya dan tiada ia teringat lagi akan kesukarannya.”
Pokus utama penafsiran
Ayat ini menyatakan tujuan praktis bagi seorang wanita bijak atau orang yang hidup dengan integritas ketika menghadapi tekanan hidup dan luka batin. Nasihatnya: melalui kebenaran, kerja keras, dan sebab musabab hidup yang adil, seseorang dapat menemukan kelegaan yang nyata—melalui ketenangan, bukan pelarian. Ayat ini menyingkap bagaimana Allah memberi ruang bagi mereka yang menderita untuk mendapatkan pemulihan, bukan menambah beban rasa bersalah. Dalam konteks Amsal 31, bagian ini menonjolkan empati dan hikmah dalam mengelola kesulitan tanpa merugikan diri sendiri atau orang lain.
Bingkai sastra dan konteks literer
Bagian ini berada dalam himne kebijaksanaan yang menilai etika kerja, karakter rumah tangga, dan bagaimana wanita yang lemah lembut namun kuat menjalani hidup berintegritas. Frasa “Biarlah ia minum” bukan sekadar pelarian; ia menandakan melegakan beban dengan cara yang tidak merusak martabat. Dalam budaya kuno, minum bisa mengandung arti pelarangan diri atau pelipur lara. Penekanan pada “melupakan celaka” mengarahkan pembaca pada proses penyembuhan yang berjalan melalui kesadaran diri, komunitas, dan iman kepada Allah yang bekerja dalam kelemahan manusia.
Penafsiran teologis singkat
Secara teologis, ayat ini mengundang kita melihat bahwa pembebasan dari beban batin tidak datang melalui penafian realita masalah, melainkan melalui pengakuan, penitensi, dan penerimaan kasih Allah. Allah memberi ketenangan bagi orang yang menanggung kesukaran dengan keyakinan bahwa akhirnya keadilan dan kebajikan akan mengalahkan penderitaan. Dalam kerangka Kebijaksanaan Amsal, kenyamanan sejati tidak ditemukan dalam pesta sesaat, melainkan dalam penguatan karakter dan harapan yang berfokus pada kebenaran Tuhan.
Kaitan dengan sumber-sumber penafsir berbahasa Inggris terdahulu
Penafsiran klasik menegaskan bahwa ayat ini menyoroti realita batin manusia yang menderita dan solusi praktis berupa penundukan diri pada kehendak Tuhan serta mencari kelegaan melalui kerja yang bertanggung jawab. Seperti catatan para penafsir terdahulu, ayat ini tidak mengajarkan pelarian abadi, melainkan pengakuan nyata atas kesulitan sambil memegang teguh iman dan hikmat hidup yang saleh.
Rujukan silang yang relevan
Pertanyaan refleksi singkat
Kesimpulan praktis
Ayat ini mengundang kita melihat bahwa pemulihan batin datang melalui jalan kebijaksanaan, kerja bermoral, dan penyerahan pada maksud Allah. Ketika kita membatasi diri dari pelarian yang merugikan, dan meminta pertolongan pada Allah serta komunitas, kita dapat mengalami kelegaan yang berkelanjutan meskipun konteks luarnya masih berat.
Penafsir berbahasa Inggris yang dipakai sebagai sumber garis besar: Matthew Henry, Albert Barnes, Adam Clarke. Kutipan singkat jika ada di bagian ini adalah bagian yang relevan dari karya mereka yang telah dipublikasikan domain publik.