Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiKidung Agung 7:9 Tafsiran ayat Alkitab
Kidung Agung 7:9 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
dan langitan mulutmu seperti air anggur yang baik, yang memancar ke atas bagi kekasihku, dan mengalir perlahan-perlahan masuk bibir mulut orang tidur.
Kidung Agung 7:9 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Kidung Agung 7:9 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Kidung Agung 5:16 (IDN) »
Langitan mulutnya semata-mata manisan dan segala sesuatu yang padanya itu keinginan belaka. Demikianlah peri kekasihku, demikianlah peri sobatku, hai segala puteri Yeruzalem!

Amsal 16:24 (IDN) »
Perkataan yang manis-manis itu seperti air madu adanya, ia itu sedap kepada hati dan obat kepada tulang-tulang.

Kidung Agung 5:2 (IDN) »
Bahwa tertidurlah aku, tetapi hatiku lagi berjaga, maka kedengaranlah bunyi suara kekasihku sambil mengetok pintu, katanya: Bukakanlah aku pintu, hai adinda, emasku, merpatiku dan kesempurnaanku! karena kepalaku dibasahkan oleh embun dan ikal-ikal rambutku oleh rintik-rintik malam.
Kidung Agung 7:9 (IDN): "dan langitan mulutmu seperti air anggur yang baik, yang memancar ke atas bagi kekasihku, dan mengalir perlahan-perlahan masuk bibir mulut orang tidur."
Verse ini menampilkan gambaran keintiman yang elegan antara pasangan dalam kitab Kidung Agung. Seperti bahasa puisi yang kaya makna, ayat ini menyorot kehalusan dan kelezatan ungkapan kasih yang memikat, di mana mulut dipersepsikan sebagai sumber minuman yang menenangkan, memancar dengan intensitas yang pas bagi kekasih. Bagi pembaca yang saat itu hidup dalam budaya yang sangat menghargai keindahan bahasa percintaan, gambar air anggur yang mengalir melambangkan kegembiraan, kesegaran, dan kedekatan.
Pemahaman konteks asli
Kidung Agung adalah rangkaian puisi asmara antara dua kekasih yang sangat menghormati satu sama lain. Ayat ini berada dalam bagian yang menyoroti daya tarik fisik sebagai lambang keintiman yang setia, bukan sekadar sensualitas kosong. Anggur di sini bukanlah simbol perbuatan yang liar, melainkan kemesraan yang damai, lembut, dan terkontrol, mengalir hanya untuk pasangan yang sah di mata tradisi kitab suci.
Inti pesan utama
Inti pesan ayat ini adalah kemewahan bahasa tubuh yang dirajut dengan kasih, yaitu ungkapan yang halus dan penuh menghormati. Langitan mulut yang seperti air anggur yang baik menekankan kesejukan, keindahan, dan keramahan ungkapan pasangan. Dalam konteks iman, makna ini mengajak pembaca mengenali bahwa hubungan yang elok memancarkan kehangatan yang mempersatukan, jika didasari kedewasaan serta saling menghormati.
tema teologis yang berkaitan
Renungan singkat dari tokoh komentar klasik
Para penafsir klasik menekankan bahwa ayat ini menyoroti kehalusan komunikatif dalam hubungan. Mereka menyoroti bahwa ungkapan kasih yang lembut—bukan dominasi atau penguasaan—mendorong kedalaman hubungan dan rasa saling percaya. Dalam hal ini, bahasa yang dipilih oleh penyair menekankan keagungan momen ketika lidah dan bibir menyampaikan kehangatan tanpa melampaui batas kepantasan.
Cross-references yang relevan
Penjelasan singkat: Ketiga referensi ini membantu menempatkan ayat ini dalam kerangka kasih yang sehat, integritas, dan saling menghormati sebagai bagian dari hubungan yang dikuduskan Tuhan.
Refleksi penutup
Ayat ini mengingatkan kita bahwa keintiman sejati perlu disalurkan melalui ujaran yang menyegarkan, yang menghiasi hubungan dengan kelimpahan kasih dan rasa hormat. Dalam konteks iman, kita diajak untuk melihat keindahan bahasa kasih sebagai cermin hati yang mengarahkan kita pada kasih yang benar dan setia, yang tidak mengecilkan martabat pasangan, tetapi meneguhkan martabat manusia ciptaan Tuhan.
Captions dari tokoh komentar kristen klasik: "Kata-kata yang manis adalah perhiasan hati; mereka membuat hubungan mulus seperti aliran anggur yang tenang." (ringkasan nuansa dari para penafsir, tanpa menyalin teks penuh)