Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiKidung Agung 7:8 Tafsiran ayat Alkitab
Kidung Agung 7:8 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Maka kataku: Aku memanjat kelak pokok kurma itu dan memegang pelepahnya; hendaklah kiranya kedua belah susumu seperti tandan buah anggur dan nafasmu seperti harum buah limau manis,
Kidung Agung 7:8 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Kidung Agung 7:8 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Yohanes 14:21 (IDN) »
Siapa yang memeliharakan hukum-Ku serta menurut dia, ia itulah mengasihi Aku; dan siapa yang mengasihi Aku, ia pun akan dikasihi oleh Bapa-Ku, dan Aku juga akan mengasihi dia sambil menyatakan diri-Ku kepadanya."

2 Korintus 2:14 (IDN) »
Tetapi syukurlah kepada Allah yang senantiasa mengarak kami di dalam perarakan sebab kemenangan di dalam Kristus, serta menyatakan bau harum pengetahuan akan Kristus dengan lidah kami di segala tempat.

Kidung Agung 1:3 (IDN) »
Bau minyakmu itu harum, maka namamu seperti minyak bau-bauan yang tercurah, sebab itu segala anak darapun birahi akan dikau.
Kidung Agung 7:8 (IDN) — Penjelasan Ringkas dalam Konteks Alkitab
Dalam Kidung Agung, puisi ini menggambarkan keintiman antara kekasih dan kekasih hati melalui gambaran tumbuhan dan buah-buahan. Pasal sebelumnya menampilkan keindahan tubuh sang kekasih dan daya tarik fisiknya; ayat ini melanjutkan dengan metafora alam untuk menekankan kedekatan, kesetiaan, serta harapan akan kemurnian dan kekuatan hubungan mereka. Frasa “aku memanjat kelak pokok kurma itu” menandakan upaya dan kemauan untuk menjangkau, sementara “dua belah susumu seperti tandan buah anggur” dan “nafasmu seperti harum buah limau manis” menggambarkan kemesraan, kesegaran, serta kebaikan yang menyertai keintiman itu.
Sebab utama makna ayat
Inti ayat ini menegaskan keintiman yang harmonis antara pasangan: upaya untuk menjangkau satu sama lain, serta ucapan harapan akan kemakmuran hubungan. Metafora buah anggur dan limau manis menandakan kemesraan, kesegaran, dan wangi yang menarik, menggambarkan keindahan batin maupun hubungan yang sehat. Puisi ini menolak reduksi romantisme menjadi sekadar fisik; sebaliknya, ia mempromosikan keutuhan dan keharmonisan yang lahir dari kemauan saling memahami dan merawat satu sama lain.
Tema utama
Gagasan penolong dari para komentator lama
Beberapa penafsir Alkitab berpendapat bahwa Kidung Agung menampilkan hubungan antara gambaran manusia dan makna rohani, yakni kasih yang mengenyam kedalaman komitmen. Dalam gaya tafsiran klasik, makna metafora kurma, anggur, dan limau menekankan kemanunggalan tubuh, jiwa, dan semangat yang saling melengkapi. Kutipan singkat dari beberapa komentar klasik (tanpa meniru teks lengkap) menggarisbawahi bahwa puisi ini menampilkan keintiman yang dihargai dan dipuji, bukan sekadar keinginan duniawi. “Kidung Agung mengagungkan keindahan pasangan dalam kehendak dan kasih yang tulus.”
Rujukan silang yang relevan
Refleksi praktis
Gagasan “memanjat pokok kurma” mengajak kita menilai kesungguhan dalam mendengar kebutuhan pasangan. Kuncinya adalah menjaga keintiman melalui komunikasi penuh kehangatan, pengakuan perasaan, dan tindakan yang memperlihatkan kasih secara nyata. Seperti buah anggur yang tumbuh berkelompok, hubungan membutuhkan kedekatan fisik maupun emosional yang sehat, disertai aroma kebaikan yang menyenangkan bagi kedua pihak.
Ringkasan singkat
Ayat ini menegaskan keinginan yang tulus untuk mendekatkan diri secara penuh, dengan gambaran buah-buah yang berbuah sebagai tanda kemesraan dan kemurnian hubungan. Pesan inti adalah menghargai keharmonisan, saling menolong, dan merawat satu sama lain agar hubungan cinta tumbuh subur dan harum.