Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiKidung Agung 8:1 Tafsiran ayat Alkitab
Kidung Agung 8:1 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Hai! jikalau kiranya engkau bagiku akan saudara, yang sudah mengisap susu ibuku, apabila aku bertemu dengan dikau di luar, niscaya aku mencium engkau, maka seorangpun tiada mencelakan daku karena sebab itu.
Kidung Agung 8:1 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Kidung Agung 8:1 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Zakharia 9:9 (IDN) »
Bersukacitalah engkau, hai puteri Sion! Bersorak-soraklah, hai puteri Yeruzalem! Bahwa sesungguhnya Rajamu datang kepadamu dengan adil, dan ialah penolong selamat, hatinyapun lembut dan ia mengendarai seekor keledai, seekor anak keledai betina.

Yesaya 9:6 (IDN) »
(9-5) Karena seorang Putera sudah jadi bagi kita, seorang anak laki-laki sudah dikaruniakan kepada kita, bahwa pertuanan adalah di atas bahunya dan namanyapun disebut oranglah Ajaib, Bicara, Allah yang Mahakuasa, Bapa kekekalan, Raja salam.

Kidung Agung 8:1 (IDN)
Ayat ini melukiskan kehangatan kasih yang dalam antara pasangan kekasih, dengan nuansa keakraban yang hampir seperti saudara. Penggambaran “engkau bagiku akan saudara, yang telah mengisap susu ibuku” menyoroti kedekatan batin dan keintiman yang telah terjalin sejak masa kecil, sehingga kasih mereka bebas dari rasa malu atau penghakiman. Pada konteks kitab Kidung Agung, ayat ini juga menegaskan keakraban dan keinginan yang tulus di antara pasangan dalam ikatan pernikahan.
Apa yang hendak disampaikan ayat ini tentang iman dan Allah
Ayat ini lebih bersifat ekspresi hubungan kasih manusia, namun ia mengingatkan bahwa kasih yang intim, murni, dan setia adalah bagian dari hidup beriman. Dalam tradisi Yudaisme dan Kekristenan, hubungan kasih yang terhormat antara suami-istri mencerminkan hubungan antara Allah dan umat-Nya: kasih yang penuh penerimaan, perlindungan, dan kerinduan yang setia. Meski ayat ini berfokus pada kasih manusia, prinsip-prinsip kebenaran ilahi yang terungkap meliputi kejujuran, kemuliaan dalam pengayaan kasih, serta ketulusan saat bertemu dengan sesama dalam keadaan membuka diri.
Kata kunci dan gambaran gambar
“sudah mengisap susu ibuku” adalah gambaran kedekatan sejak masa kecil dan penerimaan penuh. Dalam konteks Alkitab, kata-kata seperti ini menonjolkan keintiman emosional yang tidak diwariskan dengan malu, melainkan dengan kehangatan dan keterbukaan. Saudara di sini tidak mengacu pada hubungan saudara sekandung secara harfiah, namun lebih pada kedekatan batin yang menunjukkan trust dan kasih yang dalam. Hal ini mengingatkan kita bahwa hubungan yang sehat, penuh kasih, dan tidak terikat kepentingan duniawi adalah anugerah Allah.
Cross-references (hubungan dengan ayat-ayat lain)
Catatan: Referensi silang ini membantu melihat bagaimana kasih yang murni dan setia dalam Kidung Agung menepati pola kasih ilahi, meski konteksnya manusiawi.
Rangkuman tafsiran dari tokoh publik domain
Para penafsir klasik menekankan bahwa bagian ini memperlihatkan ikatan kasih yang tulus tanpa rasa malu atau pembedaan, sehingga pasangan dapat bertemu secara bebas dan mengungkapkan kasih mereka dengan penuh keberanian. Mereka menyoroti pentingnya penerimaan penuh dan kedekatan yang membangun keamanan dalam hubungan pernikahan. (Inspirasi dari tafsiran-tafsiran klasik seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke memberikan gambaran umum bahwa kasih yang terpelihara adalah cerminan kasih Allah terhadap umat-Nya, meskipun ayat ini berfokus pada perasaan manusia.)
Pembaca zaman now: bagaimana menerapkan
Penutup
Kidung Agung 8:1 mengajarkan bahwa kasih yang lahir dari kedekatan batin dapat menjadi saksi kehangatan hubungan manusia yang bermula dari anugerah Allah: sebuah ikatan yang memelihara, melindungi, dan memuliakan Tuhan melalui kasih yang tulus.