Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiKidung Agung 3:1 Tafsiran ayat Alkitab
Kidung Agung 3:1 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Bahwa pada suatu malam di atas tempat tidurku aku mencahari kekasih hatiku; aku mencahari, tetapi tiada kudapati akan dia. Maka kataku:
Kidung Agung 3:1 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Kidung Agung 3:1 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

1 Petrus 1:8 (IDN) »
yang sebelum kamu tampak, kamu kasih akan Dia, walaupun sekarang ini kamu belum nampak Dia, kamu percaya, dan karena Dia kamu bersukaria sangat dengan sukacita yang tiada terkatakan dan megah,

Kidung Agung 1:7 (IDN) »
Katakanlah kepadaku, hai kekasih hatiku! di mana engkau menggembala, di mana engkau memperhentikan kawan domba pada tengah hari, karena mengapa gerangan aku mengembara kelak dengan kawan-kawan domba segala taulanmu?

Kidung Agung 5:6 (IDN) »
Maka aku membukakan pintu akan kekasihku, tetapi kekasihku sudah pergi. Maka hilanglah hatiku oleh karena katanya, lalu aku mencahari, tetapi tiada kudapati akan dia; aku memanggil, tetapi tiada disahutnya akan daku.
Kidung Agung 3:1 (IDN) – Pencarian dalam Malam
Inti interpretatif: Ayat ini menampilkan ekspresi rindu yang kuat dan keinginan untuk berjumpa dengan kekasih, menggambarkan perjalanan iman yang menghendaki kedekatan pribadi dengan Tuhan dan juga dengan pasangan hidup. Melalui gambaran malam dan pencarian, kita diajak melihat bahwa cinta sejati menuntut ketekunan, kesetiaan, dan pengharapan meskipun dalam kegelapan sementara.
Tata bahasa sastra dan konteks pujangga
Ayat ini berbicara dalam bahasa simile marah yang halus: si tokoh wanita menimbang kerinduan, mengungkapkan tekadnya untuk mencari kekasih hatinya di malam hari. Dalam Kidung Agung, periode malam sering melambangkan masa senggang antara keinginan dan realisasi, antara pengharapan dan kenyataan. Ketidaktersediaan kekasih pada saat itu menyoroti tema keinginan yang intens dan penantian yang berharga sebagai bagian dari proses hubungan.
Konteks teologis dan spiritual
Kidung Agung secara umum menyoroti hubungan pribadi antara umat dengan Allah melalui gambaran kasih pria-wanita. Pada tingkat spiritual, pencarian pada malam menekankan kerinduan rohani untuk kehadiran-Nya. Dalam konteks pengantin perempuan, kekosongan yang sementara mengajak pembaca untuk menilai bagaimana kita menaruh kepercayaan pada Tuhan meski belum melihat jawaban atau pemenuhan segera.
Perhatikan alur penyebutan dengan unsur sastra
Penekanan pada “malam di atas tempat tidurku” menyiratkan keintiman ruang privat, tempat keyakinan diuji dalam keheningan. Perkataan “aku mencahari, tetapi tiada kudapai akan dia” menegaskan bahwa usaha mencari tidak selalu berbuah segera, namun tetap menjadi bagian dari perjalanan cinta yang tulus. Kiasan ini mengundang pembaca untuk merenungkan bagaimana iman dan pengabdian bertahan di tengah ketiadaan jawaban sementara.
Rujukan silang yang relevan
Pertanyaan refleksi
Ungkapan para penafsir berkarikatur (singkat)
Dalam karya para komentator publik-domain, beberapa menyoroti bahwa bahasa malam dan pencarian menyiratkan penempatan harapan pada janji pertemuan yang dinanti. Konteks pengantin menekankan keintiman; namun, makna spiritualnya meluas pada pencarian akan hadirat Tuhan yang membentuk hidup beriman.
Kesimpulan singkat
Ayat ini mengajak pembaca untuk melihat bahwa kerinduan yang intens adalah bagian sah dari perjalanan iman. Meski dalam malam yang gelap kekasih belum tampak, doa, penantian, dan komitmen mencari menjadi sarana menumbuhkan kedekatan dengan Tuhan dan memurnikan relasi manusia terhadap kasih-Nya.