Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiKidung Agung 7:11 Tafsiran ayat Alkitab
Kidung Agung 7:11 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Marilah, hai kekasihku! hendaklah kita keluar ke padang, hendaklah kita bermalam di dusun-dusun.
Kidung Agung 7:11 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Kidung Agung 7:11 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Kidung Agung 4:8 (IDN) »
Turunlah sertaku dari atas Libanon, hai tunanganku! turunlah sertaku dari atas Libanon; tinggalkanlah kemuncak Amana dan kemuncak Senir dan Hermon, yaitu tempat kediaman singa dan pegunungan tempat harimau.

Kidung Agung 2:10 (IDN) »
Maka bermadah kekasihku, katanya kepadaku: Bangkitlah, hai adinda, yang amat elok, hendaklah engkau keluar!

Kidung Agung 1:4 (IDN) »
Tariklah akan daku, maka kamipun akan mengikut engkau! Bahwa baginda sudah membawa aku masuk ke dalam maligai; maka kamipun akan bergemar dan bersukacita akan dikau dan memuji birahimu terlebih dari pada air anggur; segala orang yang tulus hatinya itu kasih akan dikau.
Kidung Agung 7:11 (IDN) — “Marilah, hai kekasihku! hendaklah kita keluar ke padang, hendaklah kita bermalam di dusun-dusun.”
Ayat ini menampilkan undangan penuh keintiman antara pengantin pria dan wanita untuk meninggalkan kenyamanan rumah dan mencari kesederhanaan serta keintiman di alam terbuka. Ini bukan ajakan sekadar perjalanan fisik, melainkan simbolik bagi kemesraan spiritual yang tumbuh ketika hubungan antara dua orang percaya itu dibangun dalam konteks kehendak Allah. Padang, dusun, dan malam adalah gambar pengalaman manusiawi dari kasih yang berani mengeksplorasi wilayah-wilayah baru di bawah naungan kasih.
Konteks sastra
Bagian Kidung Agung sering bergerak melalui dialog antarpasangan yang puitis, menggunakan gambaran alam untuk menggambarkan keintiman kasih, keindahan fisik, dan kesetiaan. Ayat ini muncul dalam bagian di mana para pengantin merayakan kemesraan dan persetujuan untuk maju bersama. Padang dan dusun-dusun berfungsi sebagai latar yang jauh dari rutinitas, menekankan kedekatan batin yang tumbuh ketika pasangan memeluk perjalanan bersama dengan kemauan untuk mengeksplorasi keindahan ciptaan Tuhan.
Signifikansi teologis
Secara teologis, undangan untuk keluar menuju padang mengimplikasi kebebasan beribadah dalam iman: kasih manusia dibentuk melalui pengalaman bersama yang tidak tergantung sepenuhnya pada kenyamanan duniawi. Perjalanan ini menekankan komitmen pasangan untuk saling melindungi dan merayakan kehadiran Tuhan dalam hubungan mereka. Kidung Agung juga mengarahkan pendengar kepada gambaran kemurnian kasih yang dirindukan Allah bagi umat-Nya.
Inspirasi dari komentar abad-abad lampau
Para komentator publik domain sering menekankan nuansa perjumpaan intim yang sehat antara suami-istri. Mereka menafsirkan padang dan dusun sebagai lanskap di mana kasih diuji dalam ketenangan, tanpa gangguan duniawi. Ulasan klasik menyoroti bahwa keinginan untuk meninggalkan kenyamanan bisa dipahami sebagai dorongan untuk menumbuhkan kedekatan rohani melalui pengalaman bersama dalam kesetiaan kepada Tuhan.
Rangkaian rujukan silang
Penjelasan singkat untuk tiap referensi: menyiratkan kedekatan pribadi, perlunya kebersamaan yang diberkati Allah, serta menjaga kemurnian kasih di antara pasangan.
Pertanyaan refleksi
Ringkasan praktis
Ayat ini mengundang kesehatian antara pasangan yang memaknai kasih sebagai perjalanan bersama menuju kedekatan dengan Tuhan. Keberanian untuk meninggalkan zona nyaman secara metaforis menegaskan bahwa kasih sejati bersifat dinamis dan berkomitmen, tergugah oleh keindahan ciptaan Allah dan tujuan bersama di dalam-Nya.
Quotations from Matthew Henry, Albert Barnes, and Adam Clarke are not directly quoted in full here; brief paraphrase and thematic alignment are provided to honor their traditional insights.