Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiKidung Agung 5:2 Tafsiran ayat Alkitab
Kidung Agung 5:2 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Bahwa tertidurlah aku, tetapi hatiku lagi berjaga, maka kedengaranlah bunyi suara kekasihku sambil mengetok pintu, katanya: Bukakanlah aku pintu, hai adinda, emasku, merpatiku dan kesempurnaanku! karena kepalaku dibasahkan oleh embun dan ikal-ikal rambutku oleh rintik-rintik malam.
Kidung Agung 5:2 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Kidung Agung 5:2 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Kidung Agung 2:14 (IDN) »
Hai merpatiku! yang bersembunyi di dalam celah-celah bukit batu yang tinggi! biarlah aku memandang mukamu, biarlah aku mendengar suaramu, karena manislah bunyi suaramu dan eloklah parasmu.

Wahyu 3:20 (IDN) »
Tengoklah, Aku berdiri di muka pintu sambil mengetuk; jikalau barang seorang mendengar suara-Ku serta membukakan pintu, maka masuklah Aku kepadanya, lalu makan dengan dia dan ia dengan Aku.

Kidung Agung 6:9 (IDN) »
Tetapi seorang jua merpatiku dan kesempurnaanku, ialah anak tunggal kepada ibunya, penyuci perut orang yang telah memperanakkan dia; segala anak dara yang melihat dia itu mengatakan dia berbahagia, dan segala isteri aji dan gundikpun memuji-muji dia.
Kidung Agung 5:2 (IDN): “Bahwa tertidurlah aku, tetapi hatiku lagi berjaga, maka kedengaranlah bunyi suara kekasihku sambil mengetok pintu, katanya: Bukakanlah aku pintu, hai adinda, emasku, merpatiku dan kesempurnaanku! karena kepalaku dibasahkan oleh embun dan ikal-ikal rambutku oleh rintik-rintik malam.”
Garis besar interpretasi: Ayat ini menampilkan momen intens antara Sang Pengantin dan kekasihnya, dengan simak bunyi mengetuk pintu sebagai panggilan kasih yang mendesak di tengah kelelahan. Ia menggambarkan kasih yang tidak mudah menyerah meskipun ada kelelahan fisik dan jarak emosional, serta simbol keinginan untuk dekat dalam keintiman pernikahan yang suci.
Pada bagian ini Kidung Agung menampilkan dialog antara pengantin wanita (penggambaran umat Allah menanti Mesias atau jiwa yang rindu rumah perjanjian) dan kekasihnya. Penyataan “aku tertidur” menunjukkan keadaan manusia yang lemah dan lengah, sementara hati yang masih berjaga menggambarkan keinginan kuat untuk pengakuan dan kedekatan. Ketukan pintu adalah lambang doa, permohonan, dan respons kasih Allah terhadap umatnya, meskipun ada hambatan luar seperti badai malam.
Beberapa penafsir menekankan bahwa ayat ini menyoroti kasih yang setia: meskipun kekasih tertidur secara mata batin, kasih itu tidak lenyap. Ketukan pintu menegaskan bahwa hubungan intim antara sang Pengantin dengan kekasihnya memerlukan respons manusia—jawaban yang menyatakan kepekaan terhadap waktu Tuhan dan komitmen untuk membuka diri terhadap kehadiran kasih.
Dalam konteks Kidung Agung, bab ini menunjukkan gerak maju antara kerinduan akan keintiman spiritual dan kenyataan dunia yang bisa menghalangi. Bunyi ketukan pintu menegaskan bahwa kedekatan pribadi dengan kekasih ada dalam jangkauan, jika ada kesiapan hati. Ayat ini juga mengingatkan pembaca bahwa jemaat memerlukan kesiapan untuk menerima kasih Tuhan yang datang pada saat-saat rapuh sekalipun.
Penjelasan singkat terkait silang-ruang ini: semua rujukan menegaskan tema kedekatan ilahi yang bersedia menjemput kita di saat kita lelah atau terguncang. Kidung Agung menambahkan nuansa romantis simbolik sebagai gambaran real hubungan antara umat dengan Tuhan serta antara manusia dengan sesama, yang dipelihara oleh iman dan kasih.
Ayat ini mengajak pembaca untuk melihat kasih sebagai kedekatan yang nyata, meskipun ada kelelahan atau hambatan. Ketukan pintu kekasih melambangkan respons ilahi yang tidak berhenti; kita dipanggil untuk membalas dengan kepekaan hati, membuka pintu iman, dan membiarkan kehadiran kasih memenuhi seluruh kehidupan.
Quotations from earlier commentaries (singkat):
Matthew Henry menyatakan bahwa peristiwa ini menggambarkan kasih yang tetap setia walau manusia lemah. Albert Barnes menekankan pentingnya kedekatan spiritual yang tidak tergoyahkan meskipun keadaan malam memayungi. Adam Clarke menambahkan bahwa emosi kuat dalam ayat ini menunjukkan kebahagiaan kekasih yang menantikan kehadiran pasangan dengan semangat yang tidak redup.