Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiKidung Agung 5:3 Tafsiran ayat Alkitab
Kidung Agung 5:3 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Bahwa aku sudah menanggalkan bajuku, mana boleh aku memakai dia pula? aku sudah membasuhkan kakiku, mana boleh aku mencemarkan dia pula?
Kidung Agung 5:3 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Kidung Agung 5:3 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Lukas 11:7 (IDN) »
Maka sahabatnya itu pun akan menyahut dari dalam: Jangan menyusahkan aku, pintu itu sudah terkunci, dan anak-anakku ada bersama-sama dengan aku di tempat tidur, tiada boleh aku bangun, memberi engkau.

Amsal 3:28 (IDN) »
Janganlah engkau berkata kepada samamu manusia demikian: Pergilah engkau dan datang pula, esok hari akan kuberi, jikalau ada padamu sekarang ini.

Amsal 22:13 (IDN) »
Kata si pemalas: Adalah singa di luar, kalau-kalau aku dibunuh kelak di tengah-tengah jalan raya!
Kidung Agung 5:3 (IDN) — Menggapai Makna Perjanjian yang Mengundang Kepercayaan
Ayat ini menonjolkan intensitas emosi dan kebimbangan dalam dialog asmara, sambil menyingkapkan makna kemurnian serta komitmen dalam hubungan yang dilukiskan sebagai pengungkapan hubungan antara jiwa dan Sang Kekasih. Dalam konteks kitab puisi ini, bunyi kata-kata wanita menegaskan batasan pribadi yang dijaga dengan penuh kesucian dan martabat, meskipun ada kehangatan dan keinginannya untuk berelasi secara intim. Ayat ini penting karena menunjukkan bagaimana hubungan yang sebenarnya menuntun pada kedalaman penghormatan dan kesetiaan, bukan sekadar impuls fisik.
Konteks Asal dan Makna Utama
Kidung Agung, sebagai serangkaian dialog romantis antara dua kekasih, menampilkan nuansa persetujuan, kerinduan, dan pengakuan batasan. Dalam ayat ini, sang perempuan mengungkapkan bahwa setelah menanggalkan bajunya dan membasuh kakinya, ia mempertahankan kemurnian cintanya dengan menolak gagasan untuk segera melibatkan diri secara fisik. Eskpresi ini menyiapkan panggung bagi tema penting: keintiman lahir dari persetujuan, kesetiaan, dan kehormatan pasangan yang saling menghargai.
Pesan Pokok dan Tema Teologis
Gambaran Tafsiran Para Tokoh Gereja Terbuka (Ringkas)
Para penjaca Alkitab masa lalu menafsirkan bagian ini sebagai penekanan pada martabat orang yang dirayu, serta pentingnya kebijaksanaan dalam menjaga kesetiaan. Ringkasnya, tokoh-tokoh seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menekankan bahwa kemurnian dalam konteks hubungan tidak meniadakan hasrat, melainkan menafsirkan bagaimana kasih sejati menuntun kehendak untuk menahan diri demi hormat kepada pasangan dan kepada perjanjian cinta.
Ayat-ayat Silang yang Relevan
Beberapa tempat Alkitab yang memperkuat tema kemurnian dan komitmen antara pasangan meliputi:
Penjelasan singkat: ayat-ayat silang ini menegaskan bahwa kasih yang benar menuntun pada tingkah laku yang etis dan penuh hormat, bahkan sebelum adanya tindakan yang mengikat secara fisik.
Refleksi Penutup
Ayat ini mengundang pembaca untuk melihat ke dalam rela menahan diri sebagai bagian dari pengabdian pada janji cinta. Ketika kemurnian dijunjung tinggi, hubungan menjadi lebih kuat dan penuh kepercayaan. Bagi pembaca modern, nilai inti yang terpatri adalah kebijaksanaan dalam menjaga batasan pribadi tanpa mengorbankan kehangatan emosional dan kedalaman kasih.
Quotations note: Tidak ada kutipan langsung eksplisit dari Matthew Henry, Albert Barnes, maupun Adam Clarke dalam bentuk teks panjang yang relevan pada bagian ini. Ringkasan pandangan mereka disusun secara umum sebagai pengantar konteks historis dan keseuaian tema, tanpa menyalin teks aslinya. Jika diperlukan, kutipan singkat mereka dapat dirujuk secara terpisah sesuai kebijakan hak cipta publik domain.