Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiKidung Agung 5:4 Tafsiran ayat Alkitab
Kidung Agung 5:4 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Serta kekasihku melepaskan tangannya dari pada kisi-kisi, maka rindulah hatiku akan dia.
Kidung Agung 5:4 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Kidung Agung 5:4 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Kejadian 43:30 (IDN) »
Maka Yusufpun bergopoh-gopoh dari sana, karena rindu sangat hatinya akan adiknya, dicaharinya tempat hendak menangis, lalu masuklah ia ke dalam bilik serta menangis di sana.

1 Raja-raja 3:26 (IDN) »
Tetapi bersembah perempuan yang ibunya anak hidup itu, sebab belas kasihan hatinya akan anaknya, sembahnya kepada baginda: Ya tuanku! berikanlah juga anak yang hidup itu kepadanya, janganlah kiranya tuanku bunuh akan dia! Tetapi kata perempuan yang lain itu: Biarlah anak itu bukan engkau punya bukan aku punya, baiklah dipenggal juga.

Mazmur 110:3 (IDN) »
Bahwa pada hari perangmu segala rakyatmu akan berhimpun kelak kepadamu dengan perhiasan yang suci; maka seperti dari pada kandungan fajar demikianlah embun segala pahlawanmu.
Kidung Agung 5:4 (IDN) — "Serta kekasihku melepaskan tangannya dari pada kisi-kisi, maka rindulah hatiku akan dia."
Ayat ini menampilkan intensitas pengalaman emosional pengantin wanita saat kekasihnya melepaskan tangannya dari kusen/kisi, menimbulkan kerinduan yang mendalam. Dalam sastra KidungAgung, peristiwa ini menata dinamika cinta sebagai dialog antara keinginan manusiawi dan kehadiran satu sama lain yang menguatkan identitas pribadi serta hubungan spiritual yang sedang tumbuh. Ketika tangannya terlepas, hatinya merindukan kehadiran kekasih sebagai sumber kelegaan, keamanan, dan makna.
Latar sastra dan konteks naratif
Kidung Agung berjalan di atas jalur alegoris dan romantik. Ayat ini berada dalam bagian di mana pengarang menampilkan perasaan cinta yang hidup, serba nyata, dan tidak disembunyikan. Kelepasan tangan pada kisi-kisi bisa dibaca sebagai momen transisi—dari kepastian fisik ke kerinduan batin. Secara simbolik, kisi-kisi mewakili batas antara dunia kekasih dan ruang personal si tokoh; ketika terlepas, kesempatan untuk merasakan kedekatan mengundang kerinduan yang intens.
Kepengaruhan teologis dan tema utama
Secara teologis, teks ini mengangkat tema kasih sebagai pengalaman manusiawi yang nyata, tetapi mengarah pada hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan melalui analogi cinta manusia. Kerinduan yang lahir dari kehilangan sementara menjadi dorongan untuk lebih menghargai kehadiran kekasih, seraya mengingat bahwa kasih sejati memerlukan kehadiran, komitmen, dan saling menanggapi.
Rujukan lintas tulisan dan makna kesetiaan
Pertanyaan refleksi
Kesimpulan singkat
Ayat ini menegaskan bahwa kerinduan batin lahir ketika kita kehilangan kontak nyata dengan orang yang dicintai. Dalam bingkai Kidung Agung, hal itu memperkaya dimensi cinta—bukan sekadar hasrat fisik, melainkan dorongan untuk mengalami kedekatan, kesetiaan, dan makna yang lebih dalam. Kerinduan yang sehat mendorong kita untuk menghargai kehadiran satu sama lain, serta memindahkan fokus pada hubungan yang lebih luas dengan Tuhan melalui kasih yang tumbuh dan bertumbuh.
Cuplikan pandangan tokoh-tokoh pendahulu
Kutipan singkat (tanpa menyalin teks penuh) dari para komentator publis domain akan diajukan bila relevan dalam edisi ini, namun ringkasannya adalah bahwa kerinduan dalam Kidung Agung sering dipakai untuk menegaskan realitas kasih yang berjalan di antara keinginan hidup dan komitmen yang bertahan.
Penafian: Penafsiran ini hendak menyampaikan makna inti ayat dalam bahasa Indonesia yang akrab, menyelaraskan konteks kitab Kidung Agung dengan pembacaan teologis umum tanpa mengubah inti naratif aslinya.