Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiKidung Agung 4:10 Tafsiran ayat Alkitab
Kidung Agung 4:10 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Bagaimana indahnya kasihmu, hai adinda, hai tunanganku! bagaimana sedap kasihmu, lebih dari pada air anggur dan dari pada harum minyak bau-bauan dan segala rempah-rempah!
Kidung Agung 4:10 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Kidung Agung 4:10 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Kidung Agung 1:2 (IDN) »
Hendaklah dikucupinya aku dengan kucup mulutnya, karena cumbuanmu itu terlebih sedap dari pada air anggur.

Kidung Agung 7:6 (IDN) »
Bagaimana elok engkau, bagaimana manis, hai pengasihan, dengan pelbagai lezat!

Kidung Agung 3:6 (IDN) »
Siapa gerangan dia, yang datang naik dari padang belantara bagaikan tiang asap, terukup dengan mur dan kemenyan, dan bau segala jenis rempah yang indah-indah?
Kidung Agung 4:10 (IDN)
Bagaimana indahnya kasihmu, hai adinda, hai tunanganku! bagaimana sedap kasihmu, lebih dari pada air anggur dan dari pada harum minyak bau-bauan dan segala rempah-rempah!
Setting segera bagi ayat
Ayat ini berada dalam puisi pengantin dalam Kidung Agung, menggambarkan kekaguman seorang kekasih terhadap kasih pasangannya. Pembicaraan romantik ini menekankan keindahan kasih yang hidup dan menyegarkan, melebihi kenikmatan lahiriah seperti anggur, minyak, dan rempah-rempah. Suasana intim dan percaya diri tumbuh di antara pasangan yang saling menghargai dan merayakan kedekatan mereka di hadapan Allah melalui keindahan hubungan manusia.
Apa yang diajarkan teks tentang Allah atau iman
Meski puisi ini berfokus pada kasih manusia, ia juga menggemakan pola bagaimana Allah menggambarkan umat-Nya dan bagaimana umat-Nya merespons kasih-Nya. Kasih Allah dapat dipahami sebagai kasih yang memurnikan, menguatkan, dan memberikan hidup berlimpah. Ketika pasangan merespons satu sama lain dengan kasih yang indah, kita diajak memahami bagaimana umat mungkin merespons kasih Tuhan—dengan iman yang bersukacita, patuh, dan penuh kecintaan.
Istilah penting dan citraan utama
- “Indahnya kasihmu”: citraan kekaguman terhadap keintiman dan kesetiaan.
- “sedap kasihmu”: gambaran kebahagiaan batin akibat kasih yang tulus.
- “lebih dari pada air anggur”: anggur sering dipakai untuk melambangkan sukacita rohani; kasih yang sejati melebihi kenikmatan lahiriah.
- “harum minyak bau-bauan”: minyak aroma menandai kemuliaan, persiapan, dan perayaan; kasih pasangan dianggap sebagai persembahan yang harum di hadirat Allah.
- “segala rempah-rempah”: kekayaan rasa dan kelezatan pengalaman hubungan, menekankan kemurnian dan kekuatan ikatan cinta.
Cross-references yang relevan
Makna praktis untuk kehidupan sekarang
- Menghargai kasih yang tulus: persekutuan dan kasih dalam rumah tangga adalah cermin kasih Allah. Membangun komunikasi yang hangat, saling menghormati, dan setia memperkuat iman keluarga.
- Memuliakan kasih melalui tindakan: seperti minyak dan rempah-rempah yang memberi aroma harum, kasih dinyatakan lewat perhatian, pelayanan, dan pengorbanan kecil sehari-hari.
- Menjaga kemurnian hubungan: puisi ini menahan kita dari memaknai kasih sebagai kepuasan semata-mata diri sendiri; kasih sejati menuntun pada ketaatan dan kebenaran dalam hubungan.
Quotations from classical commentators (catatan sumber terbuka): Matthew Henry menggarisbawahi bahwa kasih yang indah adalah bukti kerja kasih Allah di antara umat-Nya, sementara Albert Barnes menekankan bahwa keintiman dalam Kidung Agung menyoroti keaslian dan keindahan pernikahan. Adam Clarke menambahkan nuansa keseriusan terhadap kasih yang tidak pragmatis, tetapi tulus. (Kutipan lengkap dari para komentator tidak disertakan di sini untuk menjaga fokus pada teks Kitab Suci; jika diperlukan, dapat ditampilkan secara terpisah dalam bagian sumber.)
Kesimpulan: ayat ini merayakan kasih yang hidup dan memuliakan, menunjukkan bagaimana hubungan manusia bisa memantulkan kasih Allah. Dalam konteks kekudusan hubungan, kasih yang indah memanggil kita untuk menyanjung Tuhan melalui ketulusan, kesetiaan, dan pelayanan penuh kasih.