Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiKidung Agung 4:6 Tafsiran ayat Alkitab
Kidung Agung 4:6 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Bahwa aku hendak pergi ke gunung mur dan ke bukit kemenyan sampai hari mulai sejuk dan bayang-bayangpun lenyap.
Kidung Agung 4:6 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Kidung Agung 4:6 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Kidung Agung 2:17 (IDN) »
Dahulu dari pada angin malam bertiup dan segala bayang-bayangpun hilang, hendaklah engkau kembali, hai kekasihku! yang pantas seperti kijang atau seperti anak rusa di atas bukit-bukit Beter.

Kidung Agung 4:14 (IDN) »
narwastu dan kumkuma, deringu dan kayu manis serta dengan segala pokok kemenyan dan mur dan cendana dan segala jenis rempah-rempah yang terutama.

Lukas 1:78 (IDN) »
sebab kemurahan rahmat daripada Tuhan kita, maka cahaya dari atas pun datang melawat kita,
Kidung Agung 4:6 (IDN) — Makna secara Ringkas
Pasangan yang saling mengasihi menegaskan komitmen untuk menahan diri sementara hingga situasi yang tepat tiba. Ayat ini menyatakan keinginan untuk menunggu hingga hari menjadi sejuk dan bayang-bayang lenyap, melambangkan waktu yang tepat untuk bertindak, berbalas kasih, dan menjaga kedamaian hubungan.
Latar Kontekstual
Kidung Agung merupakan rangkaian puisi asmara antara mempelai wanita dan mempelai pria. Ayat ini berada dalam konteks puisi yang menekankan keindahan, kemurnian, dan nuansa penantian dalam cinta suci. Gunung mur dan bukit kemenyan mengandung citra keharuman, kemegahan, dan tempat pertemuan yang mulia—suasana yang menuntun pada momentum yang tepat untuk perjumpaan yang saling memuliakan.
Observasi Penafsiran Kunci
Isi Inti dalam Bentuk Ringkas
Penundaan aksi karena keindahan waktu yang tepat adalah bagian dari kasih yang berhikmat: menunggu hingga segala kekuatan dan pengharapan dalam pasangan siap untuk melangkah lebih dalam.
Pandangan Penafsir Terkait
Para penafsir PK mengenali ayat ini sebagai refleksi tentang kehendak Allah atas ritme hubungan, yaitu menilai waktu yang tepat untuk pertemuan yang membawa kemurnian dan kemuliaan. Beberapa komentar menyebutkan bahwa pertemuan di tempat yang disucikan meningkatkan rasa hormat dan pujian kepada Tuhan atas kasih yang teruji waktu.
Rujukan Silang yang Relevan
Arahan Praktis yang Ringkas
Penggabungan Wawasan Historis-Penafsiran
Ringkasnya, ayat ini menekankan bahwa kemesraan yang diberkati tidak dipaksakan. Dalam nuansa romantis, penundaan yang bijak memperlihatkan kematangan spiritual dan komitmen satu sama lain, sambil menyadari bahwa segala hal lebih utama di hadapan Tuhan. Seperti catatan para penafsir terdahulu, inti pesannya adalah menunggu ritme yang harmonis antara kasih manusia dan kehendak Allah, sehingga pertemuan yang dirayakan membawa puji bagi Tuhan.
Penutup: menjaga waktu yang tepat bukan berarti menahan kasih secara pasif, melainkan menghormati proses tumbuh bersama dalam iman dan kasih, hingga hari sejuk yang melambangkan kedamaian dalam hubungan itu tiba.