Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiAmsal 7:19 Tafsiran ayat Alkitab
Amsal 7:19 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Karena yang laki itu tiada di rumah, telah ia pergi kepada perjalanan yang jauh,
Amsal 7:19 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Amsal 7:19 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Matius 20:11 (IDN) »
Setelah diterimanya, maka bersungut-sungutlah mereka itu kepada tuan rumah itu,

Matius 24:48 (IDN) »
Tetapi jikalau hamba yang jahat itu berpikir di dalam hatinya: Tuanku lambat lagi datang;

Matius 24:43 (IDN) »
Tetapi perkara ini kamu ketahui: Bahwa jikalau tuan rumah sudah mengetahui pada waktu yang mana pencuri datang, tak dapat tiada berjaga-jagalah ia dan tiada dibiarkannya rumahnya dipecah.
Amsal 7:19 dalam Terjemahan IDN
Mengapa ayat ini penting: Ayat ini menggambarkan tindakan seorang laki-laki yang meninggalkan rumahnya untuk menempuh perjalanan jauh. Dalam konteks Amsal, maksudnya adalah peringatan terhadap godaan yang datang dari nafsu dan peluang yang menggoda, khususnya dalam bentuk ketidaksetiaan atau situasi yang dapat membawa seseorang menjauh dari komitmen dan tanggung jawab. Pesannya menekankan bahwa tindakan impulsif dan berpaling dari rumah tangga bisa membawa konsekuensi serius bagi diri sendiri maupun orang yang dicintai.
Makna asli dan konteksnya
Pemikiran kitab Amsal sering menyoroti falsafah hidup yang berlandaskan hikmat Tuhan: menjaga diri, menahan godaan, dan menimbang pilihan dengan bijaksana. Dalam ayat ini, gambaran seorang laki-laki yang pergi “kepada perjalanan yang jauh” mengilustrasikan godaan yang bersifat sementara namun berpotensi merusak jika dibiarkan tanpa kendali. Ayat ini sering dipahami sebagai bagian dari peringatan terhadap jalan menuju pelanggaran moral, terutama yang berkedudukan dalam hubungan rumah tangga dan tanggung jawab pribadi.
Pesan utama
Pesannya sederhana namun kuat: tindakan meninggalkan keadaan yang aman dan stabil demi godaan sesaat adalah pola yang membahayakan. Hikmat penulis Amsal mengajak pembaca untuk menunda keputusan yang berbahaya, menjaga integritas, dan mengutamakan tanggung jawab keluarga serta komitmen yang telah dijalani.
Tema alkitabiah terkait
Cross-references yang relevan
Penjelasan dari gembala terdahulu
Para penafsir Alkitab berpendapat bahwa bagian ini menegaskan pentingnya menjaga diri dari tipu daya. Seorang imam atau penasehat hikmat sering menekankan bahwa kehilangan kendali atas godaan dapat membawa seseorang menjauh dari arah hidup yang benar. Ayat ini mengajak pembaca untuk mengingat tanggung jawab keluarga dan arah hidup yang sudah disepakati bersama.
Pengait Taurat dan Perjanjian Baru
Secara prinsip, nasihat ini mengindikasikan kebutuhan untuk merendahkan diri di hadapan hikmat Tuhan dan memohon kekuatan untuk menahan diri. Dalam Perjanjian Baru, tema kesetiaan dan pengendalian diri diperluas sebagai buah Roh (gal. 5:22-23), mengonsekwensikan bahwa kehendak untuk memilih jalan yang benar berasal dari pekerjaan Roh Kudus dalam hati umat percaya.
Refleksi devosi singkat
Dalam setiap godaan, kita dipanggil untuk berhenti sejenak, menimbang konsekuensi, dan memilih jalan yang menjaga rumah tangga serta martabat. Biarkan hikmat Tuhan membimbing langkah kita, memastikan kita tidak menyeret diri ke perjalanan yang menjauhkan kita dari damai-Nya. Taruh kepercayaan pada kekuatan-Nya untuk tetap setia, terutama ketika godaan menggoda di luar rumah.