Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiAmsal 7:11 Tafsiran ayat Alkitab
Amsal 7:11 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Maka sebab risau dan ria maka kakinyapun tiada tetap dalam rumahnya.
Amsal 7:11 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Amsal 7:11 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Titus 2:5 (IDN) »
dan memerintahkan dirinya, dan menjadi suci, dan rajin memeliharakan rumah tangga, dan baik hatinya, dan tunduk kepada suaminya, supaya jangan menjadi suatu hujat kepada Firman Allah.

Amsal 25:24 (IDN) »
Terlebih baik duduk di penjuru sotoh rumah dari pada duduk serumah dengan seorang bini yang bantahan, jikalau berjamu orang sekalipun.

Amsal 7:11 (IDN) — Ringkas Makna dan Inti Pesan
Ayat ini berada dalam konteks nasihat bijak tentang menghindari gangguan godaan, khususnya prospek pergaulan yang membahayakan. Dalam pasal 7, pengarang Amsal menggambarkan seorang wanita yang licik dan jalan-jalannya yang memikat, sebagai peringatan bagi orang muda untuk mengenali bahaya yang menjemput ketika hati tidak waspada. Ayat 11 menyoroti dampak hidup yang gelisah dan tidak stabil: karena kegelisahan dan kepicikan, dirinya tidak tetap di rumahnya. Makna ini menyoroti ketidakstabilan dan ketegangan batin yang muncul saat seseorang terikat pada godaan atau janji palsu yang menipu kenyamanan.
Makna pokok ayat
Ayat ini menekankan bahwa keresahan batin dan sifat tidak berkedudukan dapat menggoyahkan fondasi rumah tangga dan pribadi. Ketika seseorang hidup dalam risau dan kegirangan semu, ia kehilangan kestabilan fisik maupun emosional sehingga rumah tangganya pun tidak lagi menjadi tempat aman. Secara simbolis, rumah di sini menggambarkan stabilitas hidup; jika seseorang tidak berada pada tempatnya, itu mencerminkan hilangnya kendali diri dan arah hidup yang seimbang.
Tema utama
Pasangan silang (cross-references)
Beberapa pegangan alkitabiah yang sejalan dengan pesan ayat ini antara lain:
Penjelasan singkat: Ketiga rujukan ini menegaskan pentingnya menjaga hati, menghindari godaan yang menggoncang stabilitas hidup, dan bertanggung jawab atas pilihan kita sehingga rumah tangga serta diri sendiri tetap utuh.
Refleksi praktis
Untuk pembaca modern, ayat ini mengajak memetakan batas-batas pribadi: berapa kali kita membiarkan kekhawatiran tidak rasional menguasai hari-hari kita? Apakah kita menempatkan diri pada situasi yang meningkatkan risiko godaan? Pelajari cara mengalihkan fokus ke kebijaksanaan—menjaga jarak dari situasi berbahaya, mengandalkan hikmat komunitas, dan berdoa memohon ketenangan batin.
Pemikiran para komentator (integrasi singkat)
Para komentator publik-domain seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menekankan bahwa kegelisahan dan tidak stabilitas pribadi sering kali mengikuti pilihan jalan pintas yang tampak menggoda. Henry menautkan nasihat ini dengan moralitas pribadi yang kuat; Barnes menekankan pentingnya kendali diri dalam menghadapi godaan; Clarke menyoroti pola pikir takut kehilangan kendali yang mendorong perilaku tidak stabil. Secara ringkas, mereka semua menekankan integritas pribadi sebagai benteng terhadap jalan yang menyesatkan.
Inti penutup
Amsal 7:11 mengingatkan bahwa kegelisahan batin dan kecerobohan moral bisa membuat seseorang kehilangan kestabilan hidup. Menjaga hati, batas pribadi, dan komitmen pada kebijaksanaan adalah jalan untuk menjaga rumah dan diri tetap kuat di tengah godaan.