Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiAmsal 18:7 Tafsiran ayat Alkitab
Amsal 18:7 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Bahwa mulut orang bodoh membawa dia kepada kebinasaan, dan lidahnyapun menjadi jerat akan nyawanya.
Amsal 18:7 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Amsal 18:7 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Amsal 13:3 (IDN) »
Barangsiapa yang menunggui lidahnya, ia itu memeliharakan nyawanya, tetapi orang yang membukakan bibirnya luas-luas itu kelak akan binasa.

Amsal 12:13 (IDN) »
Bahwa orang jahat itu kena jerat oleh salah perkataannya, tetapi orang yang tiada bersalah itu akan keluar dari pada kesukaran.

Amsal 10:14 (IDN) »
Adapun orang yang berbudi itu menaruh pengetahuan, tetapi mulut orang bodoh itu hampir kepada kebinasaan.
Amsal 18:7 (IDN) — Implikasi Mulut Bodoh dan Jerat Lidah
Dalam kitab Amsal, nasihat praktis menyingkap bagaimana ucapan manusia membentuk nasibnya. Ayat ini mengingatkan bahwa mulut orang bodoh tidak hanya menciptakan masalah bagi diri sendiri, tetapi juga berfungsi sebagai jerat bagi nyawanya. Prosa puitis ini menyoroti hubungan antara bicara dan akibat, sebuah tema yang berulang dalam kebijaksanaan Amsal.
Rangkaian makna ayat
Ayat ini menampilkan dua sisi utama: (1) mulut bodoh membawa kepada kebinasaan, dan (2) lidahnya menjadi jerat bagi nyawanya. Secara kiasan, mulut orang bodoh tidak hanya menimbulkan masalah eksternal, tetapi menimbulkan konsekuensi fatal bagi dirinya sendiri. Ini menggarisbawahi bahwa ucapan tidak netral: kata-kata bisa menjadi bumerang yang kembali merugikan.
Makna kunci dan gambaran
Hubungan dengan aksara Tuhan dan iman
Ketundukan lidah terhadap hikmat ilahi adalah tema sentral. Kebijakan Alkitab menekan bahwa ucapan yang dipandu oleh hikmat menuntun pada hidup; sebaliknya, kelalaian berdampak pada kehancuran. Ayat ini menekankan pentingnya pengendalian lidah sebagai bagian dari hidup saleh dan takut akan Tuhan.
Rujukan silang yang relevan
Beberapa bagian lain menegaskan prinsip serupa:
Gaya penafsiran para tokoh kebijaksanaan publik domain
Dalam pandangan para penafsir lama seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke, nasihat tentang kendali lidah dipakai sebagai peringatan praktis bagi kehidupan sehari-hari. Mereka menekankan bahwa ucapan sembrono membawa konsekuensi moral dan sosial, bukan sekadar konflik retorika. Ringkasnya, kebijaksanaan sejati mencakup bagaimana kita berbicara dan bagaimana kata-kata kita membentuk arah hidup.
Inti pesan untuk masa kini
Ayat ini mengajak pembaca untuk melatih diri dalam berbicara dengan hati-hati, menghindari ucapan yang merusak diri sendiri maupun orang lain. Dalam dunia digital saat ini, kendali lidah meluas ke cara kita menulis, menanggapi, dan berbagi pesan. Kebijaksanaan praktisnya: pikirkan dampak kata sebelum diucapkan, bersihkan niat dari kemarahan atau gengsi, dan gunakan bahasa yang membangun.
Aplikasi praktis
Referensi singkat para tokoh kebijaksanaan (kutipan tepat dibatasi):
“Mulut yang sombong mendatangkan kehancuran” (interpretasi umum atas konsep kebijakan biblikal; tidak secara eksplisit kutipan penuh dari Henry/Barnes/Clarke dalam teks ini).
Penempatan ayat ini dalam pola nasihat Amsal menuntun kita pada hidup yang lebih hati-hati, berlandaskan hikmat, demi kemuliaan Allah dan kebaikan sesama.