Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiAmsal 18:20 Tafsiran ayat Alkitab
Amsal 18:20 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Bahwa buah-buah mulut tiap-tiap orang akan mengenyangkan perutnya, dan hasil lidahnyapun akan memadamkan dia.
Amsal 18:20 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Amsal 18:20 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Amsal 12:13 (IDN) »
Bahwa orang jahat itu kena jerat oleh salah perkataannya, tetapi orang yang tiada bersalah itu akan keluar dari pada kesukaran.

Amsal 25:11 (IDN) »
Perkataan yang dikenakan dengan sepertinya itu laksana buah kasturi keemasan dalam rantang perak adanya.

Amsal 13:2 (IDN) »
Tiap-tiap orang akan makan barang yang baik dari pada buah mulutnya, tetapi nyawa orang khianat akan makan kekerasan.
Amsal 18:20 (IDN)
Iman kejadian wicara manusia membentuk hasil hidupnya. Amsal ini membawa kita ke dalam pemahaman bahwa apa yang diucapkan seseorang akan menimbulkan dampak yang nyata pada dirinya sendiri maupun orang sekitar. Mulut menjadi pintu bagi berkat maupun bahaya, karena buah bibir menumbuhkan kenyang atau kekurangan sesuai dengan isi hati yang terucap.
Setting segera teks
Ayat ini adalah bagian dari kumpulan peribahasa yang menimbang kekuatan lidah manusia: bagaimana mulut dan bahasa bisa membawa kesejahteraan maupun kerugian. Frasa “buah-buah mulut” dan “hasil lidah” menekankan dua hal: pemasukan hidup melalui perkataan dan konsekuensi yang mengikuti dari kata-kata tersebut.
Makna dan hubungan dengan iman
Ayat ini memberi gambaran bahwa tutur kata yang lahir dari kebijaksanaan dan integritas akan menghasilkan kepuasan dan pemenuhan, sementara kata-kata yang bermaksud menipu atau merusak akan kembali mempengaruhi pelaku. Dalam konteks kebijaksanaan kitab Amsal, kebenaran lidah adalah bagian dari hidup yang berkenan kepada Allah—mengungkap hati yang telah ditundukkan kepada hikmat-Nya.
Istilah penting
Hubungan dengan teks terkait
Beberapa bagian lain Amsal menekankan kekuatan kata: misalnya peringatan bahwa lidah bisa menipu (Amsal 12:18) dan dorongan untuk berkata-kata bijaksana (Amsal 15:23). Dalam Perjanjian Baru, ajaran tentang pengendalian lidah muncul sebagai bagian dari pembaruan hati melalui Roh Allah, sehingga perkataan mencerminkan kemurnian batin.
Aplikasi praktis kini
Orang percaya dipanggil untuk menjaga lidah: berbicara dengan kebenaran, membangun, dan menahan diri dari ujaran yang jahat. Dalam hubungan pribadi maupun pekerjaan, perkataan yang menenangkan dan penuh hikmat memberi kenyamanan rohani dan meningkatkan rasa percaya. Dengan mendidik diri untuk mengucapkan hal-hal yang membangkitkan, kita menyiapkan makanan rohani bagi diri sendiri dan bagi orang lain.
Panduan singkat untuk renungan
Cross-references singkat
Beberapa referensi yang relevan: Amsal 12:18 tentang lidah yang menimbulkan luka karena cerobohnya; Amsal 15:23 mengenai kepuasan karena jawaban yang tepat; Efesus 4:29 menyarankan kata-kata yang membangun dan tidak merusak.
Quotations from the public-domain commentators:
- Matthew Henry menekankan bahwa ucapan manusia memunculkan kepuasan atau kesesakan sesuai isi hatinya. (tanpa kutipan penuh)
- Albert Barnes menyoroti bahwa mulut manusia membawa hasil yang berkaitan dengan tindakan hati, bukan hanya kecepatan berbahasa.
- Adam Clarke menegaskan pentingnya bahasa yang benar sebagai indikator pembaruan batin terhadap kehendak Allah.