Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiAmsal 18:5 Tafsiran ayat Alkitab
Amsal 18:5 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Adapun menilik muka orang yang bersalah, jahatnya sama dengan menjatuhkan orang benar dalam hukum.
Amsal 18:5 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Amsal 18:5 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Imamat 19:15 (IDN) »
Jangan kamu lalim dalam hukum; jangan kamu memandang akan muka orang kecil atau mengindahkan muka orang besar, melainkan hendaklah kamu membenarkan hal samamu manusia dengan adil.

Ulangan 16:19 (IDN) »
Janganlah kamu mencenderungkan hukum; jangan kamu pandang akan muka, dan jangan kamu makan suap, karena hadiah itu membutakan mata orang yang berbudi dan memutarbalikkan perkataan orang yang benar.

Amsal 28:21 (IDN) »
Pandang muka orang dalam hukum itu tak baik, karena dari sebab sesuap nasi orang akan bersalah kelak.
Amsal 18:5 (IDN) - Menilai muka orang bersalah
Ayat ini menegaskan bahwa menilai secara tidak adil terhadap orang bersalah adalah tindakan yang menodai keadilan. Mengintai muka seseorang yang bersalah bukan sekadar soal opini pribadi, melainkan mencerminkan sikap hati yang tidak akurat dalam menilai hukum dan kebenaran. Penilaian semacam itu dapat menjatuhkan orang benar di hadapan hukum dan memupuk ketidakadilan sosial.
Tinjauan singkat pasal ini
Dalam Amsal 18, penekanan pada kata-kata kebijaksanaan berirama dengan tema umum kitab Amsal: kehujjahan akal sehat, keadilan, dan integritas dalam hubungan antar manusia. Ayat ini mengingatkan bahwa menilai orang tanpa bukti cukup atau dengan prasangka dapat merugikan pihak yang benar dan melemahkan penegakan hukum yang adil.
Apa inti pelajaran rohani ayat ini
Poin utama adalah keadilan dan kebijaksanaan dalam menilai orang. Pelajaran praktisnya: hindari penghakiman yang tergesa-gesa atau mengandalkan reputasi semata. Allah mengingatkan umat-Nya untuk menimbang segala sesuatu dengan adil, tidak memihak, dan tanpa menambah-nambah kesaksian yang tidak benar. Ketika kita menilai orang, kita seharusnya melakukannya dengan itikad untuk kebenaran dan perlindungan bagi orang yang tidak bersalah.
Kaitan dengan bagian-bagian lain dalam Alkitab
- Mazmur 37:37: menahan diri dari menilai secara berlebihan terhadap yang jahat dan mengamati orang yang benar. Penekanan pada integritas pribadi sebagai landasan perilaku di tengah ketidakadilan.
- Roma 14:10-13: ajakan memahami bahwa semua orang akan berdiri di hadapan Tuhan untuk dinilai, sehingga kita tidak boleh menghakimi sesama secara ceroboh, melainkan memelihara kasih dan bertanggung jawab atas kata-kata kita.
- Yakobus 4:11-12: memperingatkan untuk tidak saling menghakimi, karena hanya Tuhan yang berhak mengadili.
Aplikasi praktis untuk keseharian percaya
Ringkasan
Amsal 18:5 menekankan pentingnya keadilan dalam menilai orang. Menilai muka orang bersalah secara sembrono dapat menjatuhkan orang benar dalam hukum dan merusak integritas komunitas. Hikmatisnya, kita diajak untuk menimbang secara adil, menghindari prasangka, dan menegakkan kebenaran dengan kasih serta hormat terhadap martabat setiap individu.
Catatan singkat tentang kutipan klasik (jika relevan): Dalam karya-karya para komentator publik domain seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke, tema keadilan dalam persaksian dan kehati-hatian dalam menghakimi sering muncul. Sisi kritis yang mereka tekankan adalah bahwa kebijaksanaan sejati menuntut penilaian yang berlandaskan bukti, kedalaman hati, dan kasih kepada sesama. (Kutipan langsung lengkap tidak disertakan di sini karena hanya jika tersedia; jika ditemukan kutipan spesifik, akan dicantumkan di bagian ini.)