Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiAmsal 18:15 Tafsiran ayat Alkitab
Amsal 18:15 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Bahwa hati orang yang berakal itu menuntut pengetahuan dan telinga orang yang berbudi itu mencahari pengetahuan.
Amsal 18:15 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Amsal 18:15 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Amsal 15:14 (IDN) »
Hati orang yang berakal mencahari pengetahuan, tetapi mulut orang bodoh diisi dengan kebodohan.

Amsal 9:9 (IDN) »
Berilah nasihat akan orang yang berbudi, maka kelak akan bertambah akal budinya; ajarlah akan orang yang benar, maka makinlah bertambah kelak pengetahuannya.

Makna Satu Ayat: Hikmat hati mencari pengetahuan
Inti Amsal 18:15 adalah penegasan bahwa hati orang berakal memiliki dorongan untuk memahami kebenaran, dan telinga orang berbudi berkeinginan untuk mendapatkan pengetahuan. Singkatnya, kebijaksanaan praktis muncul ketika keinginan batin menemui kesempatan belajar.
Latar konteks singkat
Amsal adalah kumpulan pentunjuk kebijaksanaan yang menekankan hubungan antara akal budi, sikap hati, dan tindakan sehari-hari. Ayat ini menyoroti dua unsur: keinginan internal untuk memahami (hati yang menuntut pengetahuan) dan kemauan eksternal untuk menimba wawasan (telinga yang mencarahi pengetahuan). Dalam budaya zaman Salomo, mengakui kebutuhan akan ilmu adalah ciri orang yang serius menyelami kehidupan dengan hikmat.
Observasi penafsiran
Pengamatan teologis singkat
Kebijaksanaan bukan sekadar akal sehat, melainkan harmoni antara niat hati dan sikap belajar. Dalam alkitab, pencarian pengetahuan sering dipasangkan dengan ketundukan kepada hikmat Allah. Ayat ini mendorong pembaca untuk tidak berhenti belajar, menyadari bahwa memahami hal yang benar adalah bagian dari hidup berkenan kepada-Nya.
Gambaran tema utama
Inti tema: dorongan batin untuk belajar, dan kesediaan mendengar sebagai landasan pembelajaran yang membangun kebijaksanaan.
Rujukan lintas terkait
Amsal 2:2-6 — Kesatria kebijaksanaan terhubung dengan pendengaran yang taat dan mencari hikmat dari Tuhan; ketergantungan pada Tuhan lah sumber pengetahuan yang sejati.
Kisah Ayub 12:12 — Kearifan berasal dari pengalaman dan peningkatan pemahaman melalui perjumpaan dengan variasi keadaan hidup.
Ibrani 5:14 — Pedoman yang tajam membedakan antara hal-hal yang baik dan yang berbahaya, dibangun di atas kemampuan mendengar dengan telinga yang telah terlatih oleh latihan kebajikan.
Interpretasi praktis
Penutup praktis
Ayat ini mengajak kita menilai bagaimana kita menampung pengetahuan. Orisinalitas kebijaksanaan tidak semata berada pada kepintaran, melainkan pada kesiapan hati untuk terus belajar dan telinga yang terbuka terhadap kebenaran yang membarui hidup kita.
Catatan singkat para komentator klasik menyiratkan bahwa penekanan pada pengetahuan bukan untuk kepemilikan semata, melainkan agar kita hidup setia di hadapan Allah dengan pembelajaran yang terus berlanjut.