Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Amsal 17:1 Amsal 17:2 Amsal 17:3 Amsal 17:4 Amsal 17:5 Amsal 17:6 Amsal 17:7 Amsal 17:8 Amsal 17:9 Amsal 17:10 Amsal 17:11 Amsal 17:12 Amsal 17:13 Amsal 17:14 Amsal 17:15 Amsal 17:16 Amsal 17:17 Amsal 17:18 Amsal 17:19 Amsal 17:20 Amsal 17:21 Amsal 17:22 Amsal 17:23 Amsal 17:24 Amsal 17:25 Amsal 17:26 Amsal 17:27 Amsal 17:28



Amsal 17:7 (IDN) — Tiada patut sekali-kali seorang peloba menjanji perkara besar-besar
Ayat ini berada dalam kumpulan peribahasa yang menyoroti kejujuran lidah dan integritas tutur kata. Pembicaraan tentang janji yang dibuat oleh orang besar atau bangsawan menyingkapkan kenyataan bahwa kapasitas menjaga janji tidak tergantung pada kedudukan lahiriah. Ini menegaskan bahwa kemuliaan kata tidak ditentukan oleh status sosial, melainkan oleh kejujuran hati yang memancar melalui lidah.
Makna teologi dan iman dalam teks
Ayat ini menekankan bahwa berjanji untuk melakukan sesuatu yang besar secara tidak wajar atau berlebihan adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab jika tidak didukung oleh komitmen dan kemampuan. Dalam konteks iman, keandalan Allah dipantulkan dalam firman-Nya, dan manusia dipanggil menapak tilas pola hidup yang jujur. Ketidakjujuran dalam berjanji mengikis kepercayaan, baik sesama manusia maupun dalam hubungan kita dengan Tuhan yang menuntut integritas.
Istilah kunci dan gambaran penting
Rujukan silang yang relevan
Penjelasan ringkas menurut tokoh penafsir klasik
Para penafsir berbahasa Inggris klasik menekankan bahwa kebiasaan berjanji tanpa kemampuan atau niat benar adalah perilaku sesat yang meresahkan komunitas. Sebagaimana Matthew Henry dan Adam Clarke menilai, janji adalah ukuran keandalan seseorang; jika tidak memiliki dasar yang kuat, lidah manusia membawa kerusakan bagi hubungan dan reputasi. Kutipan pendek dari komentator klasik menyoroti bahwa pernyataan mulut yang mengandung janji besar-besaran tanpa realisasi adalah tanda kelalaian spiritual.
Aplikasi praktis untuk hidup kita sekarang
Inti ayat ini mengingatkan kita bahwa keandalan lidah mencerminkan karakter batin. Tuhan menghargai kejujuran dalam tutur kata, dan kita dipanggil untuk hidup dengan janji yang dapat dipertanggungjawabkan, tanpa memamerkan kekuasaan atau status.
Quotations from public-domain commentators (ringkas): "To promise great things without ability or will to perform is a fault…” (ringkas dari ulasan klasik yang menekankan kejujuran lidah). Ayat ini menambah beban moral bagi setiap orang yang memegang kata-kata sebagai alat komunikasi dalam komunitas iman.