Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Amsal 17:1 Amsal 17:2 Amsal 17:3 Amsal 17:4 Amsal 17:5 Amsal 17:6 Amsal 17:7 Amsal 17:8 Amsal 17:9 Amsal 17:10 Amsal 17:11 Amsal 17:12 Amsal 17:13 Amsal 17:14 Amsal 17:15 Amsal 17:16 Amsal 17:17 Amsal 17:18 Amsal 17:19 Amsal 17:20 Amsal 17:21 Amsal 17:22 Amsal 17:23 Amsal 17:24 Amsal 17:25 Amsal 17:26 Amsal 17:27 Amsal 17:28



Inti penafsir: Bahaya membentuk kebodohan generasi melalui tindakan yang tidak bijak
Ayat Amsal 17:21 menegaskan bahwa memperanakkan seorang bodoh membawa kesulitan bagi orang tua, sehingga seorang ayah yang melahirkan anak bodoh tidak akan memperoleh kegembiraan sejati atas kelahiran tersebut. Inti pesan ini adalah peringatan serius tentang konsekuensi moral dan sosial dari pengasuhan yang lalai, serta bagaimana kebijaksanaan dalam membangun karakter anak berdampak pada kesejahteraan keluarga.
Lingkup sastra dan konteks struktural
Petikan tersebut termasuk dalam rangkaian pepatah Kitab Amsal yang menyoroti hubungan antara tindakan orang tua, pembentukan karakter anak, dan akibatnya. Secara sitir, ayat ini mengasosiasikan ketidakmampuan membimbing dengan berujung pada kesulitan personal dan kebucinan keluarga. Dalam konteks kitab Amsal, tema utama adalah hikmat praktis untuk hidup sehari-hari, dan ayat ini menyorot bagaimana keputusan dalam pengasuhan tidak netral—ia membawa konsekuensi nyata bagi suasana rumah tangga dan hubungan keluarga.
Makna teologis dan praktis
Amsal ini tidak hanya berbicara tentang perasaan kecewa yang mungkin dirasakan orang tua, tetapi juga menekankan tanggung jawab orang tua untuk membentuk karakter anak sejak dini. Ketika seorang anak menempuh jalur bodoh—yang di sini dimaknai sebagai kebodohan nyata yang bertindak tanpa hikmat—hal itu mencerminkan kurangnya pembelajaran, disiplin yang terlalu longgar, atau kurangnya bimbingan moral. Kegagalan seperti itu membawa beban bagi semua pihak yang terkait, terutama bagi orang tua yang bertanggung jawab atas didikan anaknya. Namun, hikmat dalam kitab Amsal tetap mengarahkan pembaca kepada kepercayaan bahwa disiplin, pengajaran, dan kasih-peduli dapat mengubah arah kehidupan seorang anak.
Penafsiran oleh tokoh-tokoh publik domain (singkat)
Penekanan terhadap pentingnya hikmat orang tua muncul dalam karya A. Clarke dan M. Henry yang menekankan hubungan antara kebajikan pribadi dan dampaknya bagi keluarga. (Catatan: Kutipan singkat dari karya-karya tersebut dapat ditemukan dalam bagian komentar, namun teks lengkap tidak diulang di sini.)
Hubungan lintas Skriptur
Kaitan dengan ayat-ayat lain tentang hikmat dan disiplin menegaskan bahwa upaya memperbaiki diri dan keluarga melalui didikan yang konsisten adalah bagian dari rekaan Allah untuk kemakmuran rumah tangga. Misalnya, prinsip disiplin dalam Amsal lain memperlihatkan bagaimana hikmat membentuk perilaku yang berharga bagi komunitas dan keluarga.
Pertanyaan refleksi
Kesimpulan singkat
Amsal 17:21 menegaskan bahwa kelahiran seorang anak memikul tanggung jawab untuk menumbuhkan karakter yang bijak. Ketika kebodohan terpupuk tanpa didikan, keluarga akan merasakan susah, dan kebahagiaan orang tua pun berkurang. Hikmat praktis dalam pengasuhan menjadi jembatan antara harapan dan realitas, mengundang kita untuk hidup dengan pengaruh yang membangun bagi generasi masa depan.
Referensi silang singkat
— Amsal lain tentang hikmat dan didikan: mengutamakan didikan sebagai jalur menuju hidup yang bermakna.
— Prinsip disiplin yang penuh kasih: hubungan keluarga yang kuat tumbuh lewat bimbingan yang konsisten.