Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiImamat 1:3 Tafsiran ayat Alkitab
Imamat 1:3 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Jikalau persembahannya itu suatu korban bakaran dari pada lembunya, maka hendaklah dipersembahkannya seekor jantan yang tiada celanya dan hendaklah dibawanya akan dia sampai kepada pintu kemah perhimpunan, supaya ia itu mengadakan baginya gafirat di hadapan hadirat Tuhan.
Imamat 1:3 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Imamat 1:3 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Ulangan 15:21 (IDN) »
Tetapi jikalau ada celanya, seperti timpang atau buta atau kecelaan lain yang jahat, maka jangan kamu mempersembahkan dia kepada Tuhan, Allahmu.

Imamat 22:19 (IDN) »
supaya ia itu mengadakan keridlaan atasmu, maka hendaklah ia itu jantan yang tiada berkecelaan, diambil dari pada segala lembu atau anak domba atau kambing.

Ibrani 9:14 (IDN) »
istimewa pula darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal itu sudah mempersembahkan diri-Nya sendiri dengan tiada bercacat cela kepada Allah itu, menyucikan kita pada batinnya daripada perbuatan yang membawa mati, supaya kamu beribadat kepada Allah yang hidup itu.
Imamat 1:3 (IDN): Persyaratan persembahan bakaran lembu
Bagian ini menjelaskan tata cara persembahan bakaran untuk korban lembu yang dipersembahkan kepada Tuhan. Inti pesannya: persembahan harus dilakukan dengan kesempurnaan dan niat yang tulus, membawa seseorang menuju hadirat Allah melalui mekanisme penghapus dosa yang ditetapkan-Nya. Perjalanan persembahan dimulai dengan memilih lembu jantan yang tidak bercela, lalu dibawa ke pintu Kemah Perhimpunan agar diberikan gafirat (pendamaian) di hadapan Tuhan.
Pembacaan dalam konteks pasal
Imamat 1 berfokus pada tata cara persembahan korban bakaran. Ayat 3 menegaskan syarat kualitas korban dan langkah praktis mengantarkan persembahan itu ke hadirat Tuhan melalui pendamaian. Ketelitian hukum ini menekankan bahwa hubungan dengan Allah tidak bisa dilakukan secara sembarangan; budaya ritual memerlukan kemurnian fisik (binatang tanpa cela) dan pembedaan tempat serta tindakan yang tepat demi hadirat-Nya.
Pelajaran utama
Renungan dari para penafsir terdahulu
Beberapa penafsir kuno menekankan arti kelengkapan syarat: kemurnian korban mencerminkan hati yang murni, sebagaimana iman yang hidup di balik ritual. Mereka melihat bahwa tata ibadah ini membentuk pola hidup umat Israel—mengutamakan ketelitian dan ketundukan kepada ketetapan Allah. Dalam ringkasannya, gambaran korban bakaran mengajak pembaca untuk menilai niat hati saat mendekat kepada Tuhan, bukan sekadar menjalankan ritual secara mekanis.
Rujukan silang yang relevan
Beberapa bagian lain Alkitab yang sejalan dengan tema ini adalah:
Pemahaman lintas perjanjian ini membantu pembaca melihat bahwa inti ibadah adalah respons hati yang percaya dan taat kepada Tuhan, baik melalui praktik-praktik ritiron maupun hidup sehari-hari yang dipersembahkan bagi-Nya.
Aplikasi praktis untuk pembaca masa kini
Meski konteksnya adalah tata ibadah kuno, pesan frasa utama tetap relevan: Allah menghendaki ibadah yang sincere. Beberapa langkah praktisnya:
Ringkasan
Imamat 1:3 menegaskan bahwa persembahan bakaran menuntut lembu jantan tanpa cela dan langkah ibadah yang tepat menuju hadirat Tuhan. Tujuannya adalah gafirat, pendamaian hubungan antara manusia dan Allah melalui mekanisme yang telah ditetapkan. Dari konteks ini terlihat pola ibadah yang menuntut kemurnian hati dan ketaatan pada diagnosed ritual sebagai jalan menuju perjumpaan dengan Tuhan. Penafsiran para tokoh terdahulu menekankan aspek niat dan kerelaan untuk hidup sebagai persembahan yang hidup bagi-Nya.