Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Amsal 6:1 Amsal 6:2 Amsal 6:3 Amsal 6:4 Amsal 6:5 Amsal 6:6 Amsal 6:7 Amsal 6:8 Amsal 6:9 Amsal 6:10 Amsal 6:11 Amsal 6:12 Amsal 6:13 Amsal 6:14 Amsal 6:15 Amsal 6:16 Amsal 6:17 Amsal 6:18 Amsal 6:19 Amsal 6:20 Amsal 6:21 Amsal 6:22 Amsal 6:23 Amsal 6:24 Amsal 6:25 Amsal 6:26 Amsal 6:27 Amsal 6:28 Amsal 6:29 Amsal 6:30 Amsal 6:31 Amsal 6:32 Amsal 6:33 Amsal 6:34 Amsal 6:35



Amsal 6:15 (IDN)
Maksud konteks segera dan nyata pada nasihat najis kebiasaan jahat. Ayat ini muncul setelah daftar peringatan tentang kebiasaan-kebiasaan buruk yang menipu (seperti iri hati, kemalasan, dan tipu muslihat), yang pada akhirnya menggiring pada kehancuran. Dalam konteks ini, kebinasaan datang tanpa peringatan pada orang yang menaruh hati pada kejahatan tersebut.
Makna teks dan gambaran iman
Amsal 6:15 menegaskan bahwa pelanggaran berulang terhadap hikmat Tuhan membawa konsekuensi yang sangat nyata dan tak terelakkan. Ketika suatu jiwa menambatkan diri pada kejahatan dan tidak bertobat, Allah tidak menunda hukuman-Nya; kebinasaan dapat datang secara tiba-tiba, cepat, dan tidak bisa ditawar lagi. Ayat ini menanamkan ketakutan yang sehat terhadap dosa-dosa kronis dan mengingatkan bahwa keadilan Tuhan tidak menunda-nunda, melainkan menunggu saat yang tepat untuk menegakkan discipline-Nya.
Kata-kata kunci dan gambaran kiasan
Hubungan dengan ayat-ayat terkait
Beberapa bagian lain dalam Amsal menegaskan pola yang sama: bijak taat akan berbuah hidup yang mantap, sedangkan jalan orang fasik menuju kehancuran. Cross-reference singkat:
Inti ketiga referensi ini ialah panggilan untuk bertobat dan hidup dalam hikmat-Nya agar tidak tergerus oleh akibat dosa yang deras.
Interpretasi dari para penafsir mapan (ringkas)
Para penafsir klasik menekankan bahwa ayat ini menampilkan realitas keadilan ilahi yang serius terhadap pelanggaran berulang. Mereka menekankan pentingnya hidup berhikmat, tidak menunda-nunda pertobatan, dan memahami bahwa tindakan jahat membawa konsekuensi yang nyata bagi kehidupan sekarang maupun masa depan. Kutipan singkat yang relevan berasal dari para penafsir publik-domain untuk memperkaya gambaran, antara lain:
“Ketika hati orang telah menolak hikmat, maka kehancuran menunggu di pintu” (ringkas dari komentar Henry/Barnes/Clarke dalam tema yang sama).
Konteks praktis untuk zaman sekarang
Nasihat ini menegaskan bahwa hidup saleh tidak hanya soal ritual, tetapi juga pola hidup sehari-hari yang konsisten dengan ajaran Tuhan. Kebiasaan mendatangkan konsekuensi; jika pengakuan iman dan pertobatan belum menjadi bagian hidup, bahaya kemerosotan bisa datang tanpa diundang. Namun, bagi mereka yang rindu hidup sungguh-sungguh di hadapan Tuhan, ayat ini juga mengundang harapan: pertobatan dan perubahan arah membawa pemulihan.
Aplikasi praktis
Inti pesan: hidup berdasarkan hikmat Tuhan membawa ketenangan dan perlindungan, sedangkan menolak kekuatan hikmat itu berujung pada kebinasaan yang datang tanpa diduga. Bertobatlah dan hidup dalam jalur-Nya.