Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Amsal 23:1 Amsal 23:2 Amsal 23:3 Amsal 23:4 Amsal 23:5 Amsal 23:6 Amsal 23:7 Amsal 23:8 Amsal 23:9 Amsal 23:10 Amsal 23:11 Amsal 23:12 Amsal 23:13 Amsal 23:14 Amsal 23:15 Amsal 23:16 Amsal 23:17 Amsal 23:18 Amsal 23:19 Amsal 23:20 Amsal 23:21 Amsal 23:22 Amsal 23:23 Amsal 23:24 Amsal 23:25 Amsal 23:26 Amsal 23:27 Amsal 23:28 Amsal 23:29 Amsal 23:30 Amsal 23:31 Amsal 23:32 Amsal 23:33 Amsal 23:34 Amsal 23:35



Amsal 23:15 (IDN) — Ringkasan Setting, Makna, dan Aplikasi
Setting segera teks
Amsal 23 berfokus pada dorongan nasihat orang tua kepada anak-anaknya tentang bagaimana hidup dengan hikmat di tengah godaan dan tekanan dunia. Ayat 15 menundukkan suara seorang ayah yang peduli: jika hatimu berbudi, hatiku pun akan bersukacita. Ayat ini menegaskan hubungan antara kebenaran hati dan damai keluarga, menekankan bahwa pembentukan karakter anak adalah sumber kebahagiaan bagi orang tua dan bagi Allah yang memerintah atas hidup manusia.
Apa yang teks ini menyingkap tentang Allah atau iman
Teks mendorong hidup berlandaskan kebijaksanaan ilahi. Sukacita sang ayah mencerminkan keselarasan antara hati manusia dengan kehendak Tuhan. Ketika seseorang memiliki hati yang tulus dan bijaksana, itu adalah persembahan yang menyenangkan bagi Allah, karena iman yang hidup memantulkan ketaatan dan pengabdian kepada-Nya.
Menjelaskan kata dan gambaran penting
Rujukan silang terkait
Catatan singkat tentang rujukan: Kutipan lengkap dari tokoh-tokoh komentar terdahulu tidak selalu mudah dipakai karena hak cipta. Namun, pemikiran mereka sering menekankan bahwa hati yang berbudi adalah tanda kebijaksanaan yang berpraktik, dan sukacita orang tua bersumber pada integritas hidup anak.
Aplikasi untuk masa kini
Dalam keluarga modern, ayat ini mengingatkan orang tua untuk menilai bukan sekadar prestasi akademik anak, melainkan keadaan hati yang membentuk tindakan. Dorong anak berlatih berkata jujur, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama. Bagi anak, jadikan hidup berimbang antara iman, kerja keras, dan ketaatan kepada orang tua sebagai bagian dari pertumbuhan rohani. Ketika hati kita bimbang, kita bisa kembali kepada Allah untuk meminta hikmat dalam menghadapi pilihan sulit, sehingga hidup kita memunculkan sukacita bagi Allah dan bagi orang-orang di sekitar kita.
Kesimpulan singkat
Ayat ini menekankan bahwa kebijaksanaan yang hidup dan hati yang berbudipun adalah cukai kebahagiaan rumah tangga serta pujian bagi Allah. Hikmat praktis yang lahir dari iman memperlihatkan bagaimana kita hidup di hadapan Tuhan dan manusia dengan integritas.