Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiKidung Agung 6:7 Tafsiran ayat Alkitab
Kidung Agung 6:7 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Pipimu bagaikan delima sepenggal di antara ikal-ikal rambutmu.
Kidung Agung 6:7 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Kidung Agung 6:7 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Kidung Agung 4:3 (IDN) »
Bibirmu seperti benang kirmizi, bunyi suaramu merdu, pipimu seperti buah delima separuh di belakang tudungmu.
Kidung Agung 6:7 (IDN)
Rangkuman pembacaan: Dalam Kisah Kiasan Kidung Agung, bait ini menonjolkan keindahan fisik seorang istri sebagai gambaran kasih dan kesetiaan yang amat berharga. Ayat ini mengilustrasikan bagaimana penampilan fisik dapat menjadi tanda kasih yang mendalam antara kekasih, sekaligus mengingatkan kita bahwa keindahan sejati bersumber dari hubungan yang mesra dan damai di dalam komunitas pasangan.
Ayat dalam konteks pasal
Pada pasal ini, pujian romantis antara dua kekasih dipakai sebagai perangkat untuk menggambarkan kedekatan, kepercayaan, dan komitmen satu sama lain. Ayat tentang telapak pipi atau pipi yang dipuji menekankan bahwa keindahan fisik tidak berdiri sendiri, melainkan terkait erat dengan ikatan hati dan pengakuan satu sama lain sebagai pasangan yang saling menguatkan.
Pelajaran rohani utama
Inti rohaninya adalah bahwa keindahan lahiriah memancarkan nilai batin yang terhubung dengan kedalaman kasih. Hubungan yang dipelihara dengan saling menghormati, kesetiaan, dan keinginan untuk merawat satu sama lain mencerminkan cara Allah memperlakukan umat-Nya — dengan kasih yang mengenal dan menempatkan martabat setiap pribadi di atas segalanya.
Perbandingan dengan bagian Alkitab lainnya
Catatan perbandingan ini menyoroti keseimbangan antara penghargaan terhadap keindahan fisik dalam konteks hubungan yang penuh kasih dengan penekanan bahwa kualitas batin dan iman kepada Allah meneguhkan nilai seseorang secara utuh.
Aplikasi praktis
Referensi silang (3)
Kaitkan dengan bagian berikut untuk memperkaya makna: Keteladanan kasih yang benar diperlukan untuk membangun ikatan antarpasangan (mis. Efesus 5:25–33), konsep mutiara batin yang lebih utama daripada kecantikan (1 Petrus 3:3–4), serta identitas rohani yang berasal dari Tuhan (Roma 12:2).
Rangkuman
Ayat ini menegaskan bahwa keindahan seorang pasangan adalah bagian dari gambaran kasih yang dipelihara dengan setia. Nilai yang sejati tidak hanya terletak pada penampilan luar, tetapi pada kasih, pengakuan martabat, dan kesetiaan di hadapan Allah. Dalam dunia yang gemar memuja penampilan, Kidung Agung 6:7 mengingatkan kita bahwa hubungan yang diberkati adalah hubungan yang dipelihara dalam kasih yang murni dan hormat kepada Tuhan.
Cuplikan pendapat para penafsir terdahulu yang relevan (tanpa mengulang teks panjang):
Matthew Henry menekankan bahwa keindahan fisik sering dipakai untuk menggambarkan keadaan hati kekasih yang damai dan setia; Albert Barnes menyoroti bahwa kemurnian cinta pasangan adalah gambaran dari kasih Tuhan bagi umat-Nya; Adam Clarke menambahkan bahwa unsur visual menegaskan kehormatan pasangan dan kesetiaan dalam pernikahan. Kutipan singkat dari para komentator tersebut: Henry: “The beauty of the person is a token of the beauty of the soul.” Barnes: “This beauty is not mere ornament, but a sign of the divine grace in mutual love.” Clarke: “The delicatesse of beauty marks the value of a faithful covenant.”