Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiKidung Agung 6:6 Tafsiran ayat Alkitab
Kidung Agung 6:6 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Gigimu bagaikan sekawan kambing domba yang baharu naik dari dalam tempat pebasuhan, semuanya berkembar, tiada yang kurang timbalannya.
Kidung Agung 6:6 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Kidung Agung 6:6 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Kidung Agung 4:2 (IDN) »
Gigimu seperti sekawan anak domba yang baharu digunting bulunya, lalu naik dari dalam tempat pebasuhan, semuanya berkembar, tiada yang kurang timbalannya.

Matius 25:30 (IDN) »
maka hamba yang tiada berguna itu, buangkanlah ke dalam gelap yang di luar; di sanalah kelak tangisan dan kertak gigi."

Matius 21:19 (IDN) »
Serta dipandang-Nya sepohon ara di sisi jalan, pergilah Ia ke situ, dan didapati-Nya satu apa pun tiada di pohon itu, melainkan daun sahaja. Lalu berkatalah Ia kepadanya, "Janganlah jadi buah daripadamu lagi selama-lamanya." Maka dengan seketika itu juga layulah pohon ara itu.
Kidung Agung 6:6 (IDN) — Makna dan konteksnya
Ayat ini adalah bagian dari nyanyian pujian tentang keindahan, kesetiaan, dan kemurnian kekasih serta pasangan yang saling mengenali. Dalam konteks kitab Kidung Agung, bagian ini menonjolkan gambaran fisik yang rapi dan penuh simbol, menekankan kesegaran dan kemurnian karakter pasangan yang dipersepsikan seperti kambing domba yang baru keluar dari tempat pewudukan—artinya bersih, terjaga, dan siap melayani pemiliknya. Frasa ini menggunakan bahasa puitis untuk menggambarkan keindahan fisik secara teratur dan terjaga, mendemonstrasikan bagaimana cinta dinilai dari keselarasan, kebersihan, dan kesatuan antara pasangan.
Makna sentral ayat
Ayat ini menampilkan gambaran fisik yang teratur dan seragam sebagai simbol keutuhan dan kemurnian. Kambing domba yang “baharu naik” dan “berkembar” melambangkan pasangan yang bersih dari kekacauan, telah melalui proses pembaruan, dan berfungsi bersama dengan harmonis. Dalam konteks kasih pernikahan, hal ini menekankan pentingnya pasangan yang saling melengkapi, menjaga batas-batas kesucian, serta membangun satu persatuan yang seragam di hadapan Tuhan dan sesama.
Perhatian terhadap tema utama
Rujukan silang yang relevan
Beberapa ayat yang sejalan dengan gagasan kemurnian, perjanjian, dan kesatuan pasangan:
Penempatan gambar-gambar tersebut menekankan bagaimana kemurnian hubungan menghasilkan keindahan yang tidak retak, serta bagaimana pasangan diundang untuk menjaga satu sama lain dalam komitmen rohani dan moral.
Renungan praktis
Untuk pembaca modern, ayat ini mengajak merenungkan:
Inti ringkas
Kidung Agung 6:6 menggambarkan kemurnian, kesiapan, dan keselarasan pasangan sebagai gambaran indahnya hubungan yang terpelihara. Melalui bahasa puitis tentang kambing domba yang baru dibersihkan dan berpasangan, ayat ini mengajak pembaca untuk menghargai integritas hubungan, merawat kemitraan dengan kasih yang setia, dan hidup dalam kesatuan yang terhimpun di hadapan Tuhan.
Quotations from the public-domain commentators (when used): Beberapa wacana klasik yang membantu memahami nuansa ayat ini antara lain pandangan Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke tentang kemurnian, pemurnian hati, serta keharmonian ikatan kasih dalam konteks pernikahan. Frasa-frasa tertentu dapat dijumpai sebagai rujukan umum dalam literatur komentar lama, namun inti penafsiran disampaikan dalam bahasa Indonesia yang segar dan relevan dengan konteks pembaca saat ini.