Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiKidung Agung 6:5 Tafsiran ayat Alkitab
Kidung Agung 6:5 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Palingkanlah matamu dari padaku, karena ia itu terlalu kuat bagiku; bahwa rambutmu bagaikan sekawan kambing, yang makan rumput pada curam Gilead.
Kidung Agung 6:5 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Kidung Agung 6:5 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Kejadian 32:26 (IDN) »
Maka katanya: Lepaskanlah aku karena fajar sudah merekah; tetapi kata Yakub kepadanya: Tiada engkau kulepaskan sebelum engkau memberkati aku.

Keluaran 32:10 (IDN) »
Maka sekarang biarkanlah Aku menyalakan murka-Ku akan dia serta menghanguskan dia, maka Aku akan menjadikan dikau suatu bangsa yang besar.

Kidung Agung 4:1 (IDN) »
Bahwa sesungguhnya amat eloklah engkau, hai adinda! amat eloklah engkau! matamu seperti burung merpati di belakang layahmu dan tokong-tokong rambutmu itu seperti sekawan kambing yang makan rumput di bukit Gilead.
Kidung Agung 6:5 (IDN)
Setting segera: Kidung Agung menampilkan dialog kasih antara mempelai wanita dan mempelai pria, dengan nuansa pujian, kekaguman, dan kadang-kadang tekanan emosional. Ayat ini muncul saat mempelai wanita diajak untuk tidak menoleh ke arah kekasih lain, karena ia terlalu kuat baginya. Nadanya penuh keintiman, tetapi juga rasa takut akan kehilangan fokus pada satu kasih yang kudus.
Makna inti ayat
Ayat ini menekankan kedalaman kasih dan keterbatasan manusia di hadapan kasih yang sempurna. Sang mempelai pria merangkai gambaran rambutnya yang seperti sekawan kambing yang makan rumput di lembah yang curam—imaji itu menekankan kekuatan, keindahan, dan ketelitian Allah dalam mengatur perjalanan kasih manusia. Bagi penyusun kitab ini, kekuatan figur nasional dan gambaran keseharian dipakai untuk menekankan kenyataan bahwa kasih memerlukan fokus dan penyerahan total.
Penjelasan kata dan gambar
Hubungan dengan Allah dan iman
Meskipun ayat ini adalah bagian alegori kasih manusia, pola bahasa dan nuansa kekuatan yang dilihat dalam kasih itu mengingatkan kita pada dorongan untuk menjaga fokus pada kasih Allah. Ketika umat berseru tentang kekuatan Allah, gambaran iman sering kali menonjolkan: kekuatan yang memperindah, menjaga, dan membimbing jalan kita meski kita lemah.
Kutipan pendek dari tokoh komentar publik domain (untuk konteks penafsiran)
Beberapa penafsir gerejawi menekankan bahwa frasa kekuatan kasih itu bukan untuk menakut-nakuti, melainkan menunjukkan penyatuan romantis yang kuat dan loyalitas. Secara ringkas, gambaran manusia yang penuh keindahan dipakai untuk mengajak pembaca melihat bagaimana kasih harus menjadi pusat pandangan kita.
Catatan: tidak ada kutipan panjang langsung dari Matthew Henry, Albert Barnes, atau Adam Clarke dalam format lengkap di sini; hanya unsur-unsur pandangan umum yang sejalan dengan tradisi tafsir publik domain.
Referensi silang yang relevan
Penjelasan singkat hubungan: ayat-ayat ini menepatkan bahwa keindahan kasih spiritual menuntut fokus penuh dan eksklusivitas, sebagaimana iman menuntut penyerahan total kepada kasih Allah dalam konteks iman Israel kuno maupun penerapan rohani bagi pembaca modern.
Aplikasi saat ini
Tariklah perhatianmu pada kasih yang sejati: fokuskan hatimu pada target kasihmu agar tidak mudah teralihkan oleh godaan dunia atau kepalsuan. Dalam hubungan, pelihara kesetiaan, keintiman, dan kehormatan. Dalam iman, biarkan keindahan kasih Allah membentuk cara hidup—memberi arah, kekuatan, dan harapan di tengah tekanan hidup.