Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiWahyu 18:3 Tafsiran ayat Alkitab
Wahyu 18:3 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Karena segala bangsa sudah mabuk dengan air anggur sundal itu yang menaikkan nafsu zinahnya, dan segala raja di bumi pun berzinahlah dengan dia, dan segala saudagar di bumi ini pun makin kaya dari sebab tersangat limpah kemewahannya."
Wahyu 18:3 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Wahyu 18:3 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Wahyu 14:8 (IDN) »
Maka ada yang lain lagi, yaitu malaekat yang kedua mengikut dia, serta berkata, "Sudahlah roboh, sudahlah roboh negeri Babil yang besar, yang memberi segala bangsa minum air anggur yang menaikkan hawa nafsu zinahnya."

Wahyu 17:2 (IDN) »
dengan dialah segala raja di bumi telah bersundal, dan segala isi dunia pun mabuk dengan air anggur persundalannya itu."

Wahyu 18:9 (IDN) »
Segala raja di dunia, yang sudah berzinah dan duduk dengan lazatnya bersama dengan dia, akan menangis dan meratapkan dia apabila mereka itu memandang asap api yang membakar dia,
Interpretive Point
Wahyu 18:3 menggambarkan keruntuhan moral dan kemewahan dunia yang menjerat semua lapisan manusia. “air anggur sundal” bukan sekadar minuman, melainkan lambang pengaruh kejahatan yang merasuk ke dalam kebijakan, perdagangan, dan kekuasaan. Pada akhirnya, pengikut duniawi mabuk oleh kemewahan dan dosa, sehingga mengundang murka Allah atas sistem yang menindas dan menjerat umat manusia.
Literary Context
Pasal 18 menyoroti kehancuran Babilon yang simbolik, kerajaan kejahatan yang menyesatkan bangsa-bangsa melalui perdagangan, kemewahan, dan pengakuan palsu terhadap dewa materi. Ayat 3 menegaskan jaringan hubungan antara bangsa, raja, dan pedagang: semua terhimpun dalam sistem yang memberi kepuasan sesaat namun menipiskan hati nurani. Ikatan ini menimbulkan gambaran akhir zaman yang nyata bagi pembaca gereja: kekuatan duniawi tidak hanya berbahaya secara teologis, tetapi juga merugikan program Allah bagi umat-Nya.
Theological Significance
Iman Kristen dipanggil untuk membedakan antara nilai dunia dan nilai kekal. Ayat ini menekankan bahwa kemewahan dunia dapat menjerat moralitas, merusak kesetiaan kepada Allah, dan menutup pintu bagi kesaksian rohani. Allah membiarkan visi kehancuran Babilon sebagai pengingat bahwa ketamakan dan penyalahgunaan kekuasaan akan dihakimi. Dalam konteks kitab Wahyu, kemenangan akhir bagi umat percaya tidak dapat diperoleh melalui kemewahan dunia, melainkan melalui ketaatan kepada Kristus dan pengharapan pada kerajaan Allah.
Cross-References (singkat)
Pertanyaan untuk Refleksi
Penutup (Ringkas)
Wahyu 18:3 mengajak pembaca percaya untuk melihat bahaya sistem dunia yang mengaburkan nilai rohani dengan glamor dan keuntungan material. Meski dunia menawarkan kemewahan, gemerlapnya tidak mampu memberi keselamatan. Kesetiaan kepada Allah dan pengharapan pada kerajaan-Nya tetap menjadi jalan keluar dari dominasi Babilon simbolik ini.
Cuplikan Catatan Para Penafsir Berkedalaman (singkat)
Beberapa penafis menggambarkan bahwa kekuasaan, perdagangan, dan kemewahan Babilon menipiskan moralitas manusia sampai membawa semua pihak pada pengabdian pada sistem yang menindas iman. Dalam karya-karya terdahulu, mereka menekankan bahwa penilaian Tuhan terhadap sistem dunia ini dilandaskan pada keadilan dan kebenaran, yang tidak dapat ditekan oleh kekayaan maupun popularitas.
Quotations from traditional commentators (where applicable):
“Air anggur sundal” merujuk pada pengaruh moral yang meracuni semua kelas—bukan sekadar zat, melainkan daya tarik sistem yang menuntun ke jurang dosa. Penggalan ini menegaskan bahwa kebebasan sejati hanya ditemukan dalam pembebasan Kristus dari sistem duniafi yang menindas iman.