Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiWahyu 18:18 Tafsiran ayat Alkitab
Wahyu 18:18 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
lalu berteriaklah mereka itu tatkala melihat asap api yang membakar dia, sambil berkata: Negeri manakah yang sama dengan negeri besar ini?
Wahyu 18:18 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Wahyu 18:18 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Wahyu 13:4 (IDN) »
sambil menyembah naga itu, oleh sebab ia sudah memberi kuasa kepada binatang itu; maka binatang itu pun disembahnya juga serta berkata, "Siapakah yang sama dengan binatang ini? Dan siapakah yang dapat melawan dia?"

Yesaya 23:8 (IDN) »
Siapakah sudah menakdirkan untung ini atas Tsur, yang biasa membahagi-bahagi makota dan saudagarnya bagaikan raja-raja dan biaperinya bagaikan orang besar-besar di dunia itu.

Yehezkiel 27:30 (IDN) »
Di sana diperdengarkannya suaranya akan halmu, serta meraung dengan kepahitan hatinya, disiraminya kepalanya dengan duli dan bergelumanglah mereka itu dalam abu.
Makna Langsung Wahyu 18:18 (IDN)
Ungkapan dalam ayat ini menggambarkan para pengrajin, pedagang, dan pelayat di kota Babil, yang menatap api menyala dan asap membubung. Mereka berseru dengan teriakan takjub dan keheranan tentang kehancuran kota besar itu, menegaskan bahwa tidak ada negeri seperti dia dalam kekuatan, kemakmuran, maupun kemewahan. Secara praktis, ayat ini menekankan bahwa gemerlap dan kuasa duniawi akan berakhir dan akan menimbulkan respons keheranan dari mereka yang hidup di dalamnya.
Latar Kontekstual
Wahyu 18 menghadirkan gambaran vatikum mengenai kehancuran Kota Babel (Bab 17-18). Babel dinilai sebagai simbol kemegahan duniawi, peradaban yang menentang Allah, dan praktik perdagangan yang merusak. Ayat ini berada dalam bagian penghakiman ilahi atas penyimpangan moral, kemewahan berlebih, dan perbudakan ekonomi. Saat Babilon terbakar, para pedagang yang dahulu mendapat keuntungan besar dari kota itu meratap, menunjukkan bahwa kekayaan duniawi tidak memberi perlindungan ketika Allah menegakkan keadilan.
Observasi Interpretatif
Tiga Titik Tema Utama
Hubungan dengan Bagian Lain Alkitab
Cross-references:
Penjelasan singkat: Poin-poin ini menegaskan bahwa kehormatan dan kemewahan duniawi dapat dipersepsikan sebagai kekuatan, namun pada akhirnya Allah membenarkan keadilan-Nya dengan meruntuhkan simbol-simbol tersebut.
Amanat Praktis
Untuk pembaca percaya: hindari terlalu terikat pada kemegahan material atau peran duniawi sebagai landasan keamanan. Hidup dalam iman menimbang kehendak Allah lebih utama daripada memenuhi naluri untuk memiliki, memamerkan, atau menjaga kestabilan duniawi yang fana.
Quotations from Early Commentaries (Singkat)
Beberapa ahli berpendapat bahwa kata-kata para saksi menekankan kejatuhan suatu “negeri besar” yang dulunya menjadi pusat perdagangan dan kemewahan. Ini sejalan dengan pandangan klasik bahwa kemegahan duniawi bersifat sementara dan ilahi membuktikan kebenaran hakiki.
Catatan singkat: Jika mengutip secara terbatas, hasilnya mencakup ungkapan umum para komentator terdahulu mengenai kehancuran Babel dan peran pedagang yang meratapi kebangkrutan kota besar tersebut.
Ayat ini menegaskan bahwa penilaian terakhir atas kekuasaan duniawi adalah milik Allah, bukan manusia. Tetap teguh dalam iman sambil bijak menilai nilai-nilai yang tahan uji di hadapan Allah yang adil.