Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Amsal 15:1 Amsal 15:2 Amsal 15:3 Amsal 15:4 Amsal 15:5 Amsal 15:6 Amsal 15:7 Amsal 15:8 Amsal 15:9 Amsal 15:10 Amsal 15:11 Amsal 15:12 Amsal 15:13 Amsal 15:14 Amsal 15:15 Amsal 15:16 Amsal 15:17 Amsal 15:18 Amsal 15:19 Amsal 15:20 Amsal 15:21 Amsal 15:22 Amsal 15:23 Amsal 15:24 Amsal 15:25 Amsal 15:26 Amsal 15:27 Amsal 15:28 Amsal 15:29 Amsal 15:30 Amsal 15:31 Amsal 15:32 Amsal 15:33



Amsal 15:33 (IDN) – “Bahwa takut akan Tuhan itulah pengajaran hikmat; maka rendah hati itu dahulu dari pada hormat.”
Setting segera teks
Ayat ini terletak dalam kumpulan nasihat penting yang membentuk pola hidup bijaksana. Dalam konteks Amsal, takut akan Tuhan sering dipakai sebagai fondasi utama untuk memahami pelajaran-pelajaran hikmat. Di sini, hikmat dimaksudkan bukan sekadar pengetahuan teoretis, melainkan cara hidup yang tunduk kepada Allah. Pengajaran tentang rendah hati muncul sebagai langkah awal sebelum mendapatkan hormat atau penghormatan dari orang lain.
Apa yang diungkapkan teks tentang Allah dan iman
Ayat ini menegaskan hubungan sebab-akibat antara takut akan Tuhan dan pewahyuan hikmat. Ketakutan akan Tuhan bukan ketakutan pasif, melainkan hormat, taat, dan pengakuan posisi Tuhan sebagai sumber segala kebijaksanaan. Ketika seseorang menghormati Tuhan, itu membuka pintu bagi hikmat untuk bekerja dalam pikirannya dan hidupnya. Allah dipandang sebagai sumber pengetahuan yang benar, dan respons manusia berupa kerendahan hati sebagai jalan awal menuju pengertian.
Istilah penting dan gambaran kunci
Cross-reference yang relevan
Beberapa ayat turut memperkaya makna teks ini:
Penjelasan singkat menurut elis interpretatif klasik
Para penafsir publik domain seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menekankan bahwa takut akan Tuhan adalah fondasi integral bagi kebijaksanaan. Henry menegaskan bahwa pengajaran hikmat lahir dari sikap yang tunduk pada otoritas ilahi; kerendahan hati adalah pintu masuk untuk menerima pelajaran hidup yang benar. Barnes menggarisbawahi bahwa rendah hati bukan sekadar merendahkan diri, melainkan menempatkan diri dalam posisi siap menerima bimbingan Tuhan. Clarke menambahkan bahwa hikmat praktis berakar pada hubungan yang benar dengan Tuhan, bukan sekadar pengetahuan teoretis. Frasa kunci “murah hati” dipahami sebagai kesiapan untuk terus belajar di bawah pimpinan ilahi, sehingga hormat yang diperoleh manusia lahir dari pola hidup yang diawali dengan takut akan Tuhan.
Gagasan inti dan aplikasinya bagi zaman sekarang
Intisarinya: kedalaman hikmat Allah terbuka bagi mereka yang memulai dengan hormat kepada-Nya. Kerendahan hati membuka telinga bagi nasihat ilahi, membentuk keputusan yang benar dalam pekerjaan, keluarga, dan komunitas. Dalam kehidupan hari ini, kita diajak untuk: