Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Amsal 15:1 Amsal 15:2 Amsal 15:3 Amsal 15:4 Amsal 15:5 Amsal 15:6 Amsal 15:7 Amsal 15:8 Amsal 15:9 Amsal 15:10 Amsal 15:11 Amsal 15:12 Amsal 15:13 Amsal 15:14 Amsal 15:15 Amsal 15:16 Amsal 15:17 Amsal 15:18 Amsal 15:19 Amsal 15:20 Amsal 15:21 Amsal 15:22 Amsal 15:23 Amsal 15:24 Amsal 15:25 Amsal 15:26 Amsal 15:27 Amsal 15:28 Amsal 15:29 Amsal 15:30 Amsal 15:31 Amsal 15:32 Amsal 15:33



Amsal 15:21 (IDN)
Perkara yang bodoh menjadi kesukaan orang gila, tetapi orang yang berakal betul itu menurut jalan yang rata.
Setting segera pasal
Amsal 15 adalah bagian dari kumpulan hikmat yang menekankan pilihan bijak dan konsekuensi dari sikap hati. Ayat ini menyoroti kontras tajam antara tawa sia-sia pada kebodohan dan ketertiban hidup yang mengikuti jalan benar. Konteksnya adalah ajaran praktis tentang bagaimana memilih pembelajaran hikmat dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam bertutur kata, bertindak, dan menimbang dampak tindakan kita di hadapan Tuhan dan sesama.
Makna teologis dan iman
Ayat ini menegaskan bahwa Allah menghendaki hidup yang teratur dan penuh hikmat. Jalan yang rata menggambarkan hidup yang seimbang, jujur, dan menyenangkan Tuhan. Perkataan bodoh yang menjadi kesukaan orang gila menunjukkan kegilaan mendua: menikmati perbuatan yang merusak diri, sedangkan orang berakal memilih disiplin diri demi kebenaran dan kemanusiaan. Sikap hati yang rendah hati di hadapan hikmat Allah membentuk pola hidup yang meniru teladan Tuhan dalam mengasihi sesama dan menghindari tipu daya kejahatan.
Istilah kunci dan gambaran perlu
Hubungan dengan bagian lain Kitab Amsal
Hubungan dengan pasal 15 lainnya menunjukkan tema konsistensi antara hikmat dan kehidupan: pilihan kata dan tindakan mencerminkan hati yang dekat dengan Tuhan. Misalnya, nasihat untuk menghindari kebingungan pikiran (tidak mengandalkan kelicikan) dan mencari hikmat melalui nasihat bijak yang terarah pada kebaikan bersama.
Rujukan silang yang relevan
Penjelasan singkat para penafsir terkemuka (tanpa kutipan panjang): mereka menekankan pentingnya menimbang pilihan kata dan tindakan, serta menilai bagaimana kebijaksanaan memampukan seseorang menyeimbangkan tujuan hidup dengan kebenaran ilahi.
Aplikasi praktis bagi zaman sekarang
Kesimpulan
Ayat ini mengajak pembaca untuk menilai hidup menurut hikmat Allah. Orang berakal betul memilih jalan yang lurus dan teratur, sementara kebodohan mengecap kesenangan sesaat namun menuntun pada kekacauan. Pilihan kita hari ini membentuk masa depan kita di hadapan Tuhan.