Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiEzra 5:7 Tafsiran ayat Alkitab
Ezra 5:7 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Maka dalam riwayat yang dikirimkannya kepada baginda itu adalah tersebut demikian: Salam doa apalah kiranya disampaikan ke bawah duli tuanku raja Darius.
Ezra 5:7 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Ezra 5:7 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Ezra 4:17 (IDN) »
Hata, maka surat itu dibalas oleh baginda kepada Rehum penghulu negeri, dan Simsai, jurutulis, dan segala kawannya yang lain, yang duduk di Samaria, dan lagi kepada segala orang lain yang pada seberang sini sungai itu, bunyinya: Salam atas kamu pada masa ini.

Daniel 4:1 (IDN) »
Bahwa surat ini dari pada baginda raja Nebukadnezar disampaikan kepada segala bangsa dan kaum dan orang yang berbagai-bagai bahasanya, yang duduk pada seluruh muka bumi: Selamat diperbanyakkan kiranya atas kamu!

Inti Penafsiran: Salam dan Permohonan Dengarkan Rindu Hamba Allah (Ezra 5:7)
Pasal Ezra 5:7 menampilkan momen diplomatis di mana surat bersejarah dikirimkan kepada raja Darius. Inti dari ayat ini ialah permohonan damai disertai salam hormat, menunjukkan budaya komunikasi resmi kala itu: melaporkan keadaan dengan sopan santun sambil menyatakan tujuan pembangunan bait suci. Surat tersebut berfungsi sebagai bukti bahwa upaya membangun kembali rumah ibadat disertai dengan pengakuan kedaulatan penguasa dan kesediaan untuk memenuhi persyaratan administratif.
Konteks sastra
Bagian ini berada dalam rangkaian laporan tentang laporan pekerjaan kembali Yehuda. Para imam dan pemimpin Yahudi menulis kepada raja Darius, menjelaskan latar belakang pekerjaan, serta memohon izin dan perlindungan. Penekanan pada salam dan salam doa menegaskan bahwa komunikasi ini tidak sekadar laporan teknis, melainkan permintaan dukungan ilahi yang diangkat melalui saluran manusia.
Makna teologis
Surat ini mengiringi naturalisasi rencana pemulihan tempat ibadah sebagai bagian dari rencana ilahi yang lebih besar untuk memulihkan umat. Salam doa mengandung dua unsur: keyakinan bahwa pekerjaan di hadapan Allah berkaitan dengan kehendak Allah sendiri, dan pengakuan bahwa manusia hidup di bawah otoritas raja dan perlindungan-Nya. Respons yang benar terhadap rencana Allah melibatkan ketaatan pada otoritas manusia yang diberi kuasa Tuhan untuk menjaga ketertiban.
Kaitan dengan bagian lain Suhuf Suci
Cross-references (singkat, relevan)
• Nehemia 2:5–8 — Nehemia memohon akses ke otoritas raja dan mendapatkan surat perlindungan bagi pekerjaan pembangunan tembok Yerusalem. Penekanan pada saluran resmi dan izin menunjukkan pola serupa.
• Ezra 4:12–16 — Penolakan awal terhadap pembangunan dan bagaimana surat protes beralih menjadi pembuktian kepatuhan umat kepada otoritas ketika dibuktikan kebenaran maksud mereka.
• 1 Samuel 17:45–47 — Ketokohan iman dan ketaatan kepada otoritas sang raja yang melindungi umat Allah, menguatkan bahwa pekerjaan bagi Tuhan berjalan dalam kerangka penyertaan Allah dan perizinan manusia.
Pertanyaan refleksi
Penutup singkat
Ezra 5:7 menegaskan bahwa pekerjaan besar umat Allah di bumi ini dilakukan melalui jalur yang teratur dan didukung oleh doa. Salam doa yang disampaikan kepada raja Darius menggambarkan pita komunikasi antara iman, pemerintahan, dan rencana ilahi. Pertemuan antara persuasi diplomatik dan keyakinan rohani menjadi landasan bagi pemulihan rumah ibadah dan identitas umat Allah di masa sulit.