Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Kidung Agung 2:1 Kidung Agung 2:2 Kidung Agung 2:3 Kidung Agung 2:4 Kidung Agung 2:5 Kidung Agung 2:6 Kidung Agung 2:7 Kidung Agung 2:8 Kidung Agung 2:9 Kidung Agung 2:10 Kidung Agung 2:11 Kidung Agung 2:12 Kidung Agung 2:13 Kidung Agung 2:14 Kidung Agung 2:15 Kidung Agung 2:16 Kidung Agung 2:17



Kidung Agung 2:15 (IDN) — “Tangkaplah kiranya akan kami segala rubah…”
Pada konteks Kidung Agung, puisi ini menggambarkan kasih romantis antara mempelai wanita dan kekasihnya. Ayat 2:15 memperlihatkan permintaan untuk menjaga kebun anggur dari gangguan, yaitu rubah-rubah yang merusak tanaman dan buah anggur. Gambaran ini bukan sekadar instrumen pertanian, melainkan simbol ancaman yang mengganggu kemesraan, kemakmuran, dan perlindungan yang diperlukan agar hubungan tetap subur dan indah. Rubah dalam budaya kuno sering melambangkan bahaya yang licin dan mengintai, sehingga permintaan untuk menangkapi mereka menegaskan kebutuhan menjaga kemurnian hubungan dari ancaman luar yang merusak suasana kasih.
Inti makna verse
Ayahasan ini menekankan aksi proaktif: menjaga, melindungi, dan mengendalikan ancaman yang dapat merusak keindahan kebun kasih. Kebun anggur adalah gambaran kemesraan dan berkat pasangan; rubah yang merusak melambangkan gangguan-gangguan yang mengikis keintiman, seperti kekhawatiran, godaan, atau pola perilaku yang merugikan. Permintaan untuk “tangkaplah” menunjukkan kebutuhan praktik kehati-hatian, tindakan nyata, dan kewaspadaan bersama demi menjaga kemurnian hubungan.
Kegiatan tema utama
Refleksi praktis
Dalam konteks rumah tangga rohani, ayat ini mengundang pasangan untuk menilai kebersamaan mereka: apa saja “rubah-rubah” kecil yang meresak, seperti perselisihan sepele, jarak emosional, atau kebiasaan tidak sehat yang menumbuhkan ketidaknyamanan. Upaya bersama untuk menanggulangi masalah-masalah kecil dapat mencegah gangguan besar dan mempertahankan suasana kasih yang berbuah. Pembaca diajak mempraktikkan komunikasi jujur, saling memahami, dan komitmen untuk melindungi kebun kebersamaan dari ancaman yang merusak.
Cross-references singkat
- Mazmur 1:3 menggambarkan kebahagiaan orang benar seperti pohon yang berbuah; relevansi terhadap gambaran kebun anggur yang subur.
- Amsal 4:23 menekankan menjaga hati sebagai sumber tindakan; sejalan dengan menjaga kebun kasih dari gangguan.
- Matius 7:24–25 menekankan dasar yang kokoh bagi hubungan melalui ketaatan pada firman; relevan untuk menjaga kebun tetap kuat di tengah gangguan.
Gambaran para komentator publik domain
Para komentator seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke menekankan pentingnya menjaga kemurnian hubungan dan melawan gangguan dengan tindakan yang nyata. Mereka menafsirkan rubah sebagai simbol gangguan yang datang dari luar dan kurangnya pemeliharaan batin yang bisa merusak keintiman rohani maupun relasi manusia. Poin-poin ini membantu pembaca memahami konteks simbolis tanpa menambah klaim historis yang tidak perlu.
Kesimpulan singkat
Kidung Agung 2:15 mengajak pasangan memperhatikan dan melindungi kebun kasih mereka. Gabungan tindakan kehati-hatian, komunikasi, dan komitmen bersama akan mempertahankan kemurnian dan kelimpahan hubungan, sehingga buah-buah kasih tetap tumbuh subur meski ada gangguan di sekitar mereka.