Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiWahyu 17:3 Tafsiran ayat Alkitab
Wahyu 17:3 Penjelasan dan tafsiran ayat Alkitab
Maka ia membawa rohku ke padang belantara, lalu aku nampak seorang perempuan duduk di atas seekor binatang merah kirmizi, yang katup dengan nama hujat, dan yang berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh.
Wahyu 17:3 Tafsiran ayat Alkitab
*** Tafsiran ini memuat materi yang berasal dari sumber-sumber klasik dalam domain publik. Sebagian materi telah diproses, diringkas, atau diterjemahkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Kami menyarankan Anda untuk membandingkan setiap penjelasan dengan teks Alkitab dan konteks lengkapnya. Jika menemukan kesalahan atau terjemahan yang perlu diperbaiki, silakan hubungi kami.
Wahyu 17:3 Referensi silang ayat
Jelajahi ayat-ayat terkait yang memiliki tema, pengajaran, atau konteks yang berhubungan dengan bagian ini. Referensi silang ini membantu Anda membandingkan ayat dan memahami pesan Alkitab dengan lebih mendalam. Pilih salah satu gambar untuk membaca ayat terkait, penjelasan, dan tafsiran Alkitabnya.

Wahyu 12:3 (IDN) »
Maka kelihatanlah suatu alamat yang lain pula di langit, yaitu ada seekor naga besar yang merah menyala, berkepala tujuh, dan bertanduk sepuluh, dan di kepalanya bermakota tujuh;

Wahyu 12:6 (IDN) »
Maka perempuan itu pun larilah ke padang belantara; di situ ada suatu tempat disediakan Allah baginya, supaya ia dipeliharakan di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.

Wahyu 17:6 (IDN) »
Maka aku tampak perempuan itu mabuk darah, yaitu darah segala orang suci dan darah segala saksi Yesus itu. Maka heranlah aku melihat dia dengan heran yang amat sangat.
Wahyu 17:3 dalam Konteks Kitab Wahyu
Makna utama ayat
Tema kunci
Rujukan silang yang relevan
Wahyu 13:1-2— Binatang dengan tujuh kepala dan dua belas tanduk memberi gambaran tentang kekuatan politik yang bekerja sama dengan roh kejahatan. Kesamaan simbolik menunjukkan bagaimana kekuasaan dunia dan kekuatan iblis saling berfungsi dalam menentang umat Allah. Penekanan pada kemiripan watak antara politik dunia dan kejahatan rohani menolong pembaca memahami ancaman yang dihadapi gereja awal.
Yesaya 47:1-15— Perumpamaan tentang keanggunan bangunan Babilon dan kejatuhan kebanggaan manusia mengingatkan pembaca bahwa kebanggaan dan perlampasan kekuasaan manusia akan runtuh di bawah keputusan Allah yang adil. Ini membantu menafsirkan bagaimana “pelacur besar” dalam Wahyu merepresentasikan kebangsaan dan peradaban yang menyeleweng dari Tuhan.
1 Yohanes 2:15-17— Dunia dan keinginannya bersaing dengan kasih kepada Bapa. Walau dunia tampak menarik, umat perlu memilih ketetapan hati untuk tidak terikat oleh sistem yang menolak kemuliaan Allah.
Tetap relevan bagi pembaca hari ini
Ayat ini mengajak kita waspada terhadap segala bentuk pelambangan kemegahan dunia yang menawan tanpa mempertimbangkan keadilan Allah. Meskipun keadaan sering terasa kuat dan mengundang kita untuk menyerah pada budaya populer yang menyeleweng, kitab Wahyu menegaskan bahwa Allah tetap berdaulat. Ketika kita berada dalam tekanan budaya, kita diingatkan untuk tetap setia pada Allah, membedakan antara kemegahan dunia dengan kekekalan rencana-Nya.
Refleksi praktis
Ringkasan singkat
Wahyu 17:3 menegaskan bahwa keanggunan dunia bisa menipu, menampilkan kekuatan politik dan budaya sebagai lawan Allah. Dalam simbol binatang berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, kitab Wahyu menyiapkan panggung untuk menilai kekuasaan manusia lewat kacamata edaran ilahi, mengajak umat Allah untuk tetap setia hingga akhir dan bergantung pada kedaulatan Tuhan.
Quotations from public-domain sources (as available): Tidak ada kutipan langsung panjang dari Matthew Henry, Albert Barnes, atau Adam Clarke dalam paragraf ini. Namun, efek umum dari komentar-komentar publik domain yang berfokus pada simbolisme Wahyu 17 menunjukkan bahwa kemegahan dunia menipu dan kehendak Allah pada akhirnya akan dinyatakan. Jika Anda membutuhkan kutipan singkat spesifik, saya bisa menambahkannya sesuai sumber yang tersedia.