Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Amsal 28:1 Amsal 28:2 Amsal 28:3 Amsal 28:4 Amsal 28:5 Amsal 28:6 Amsal 28:7 Amsal 28:8 Amsal 28:9 Amsal 28:10 Amsal 28:11 Amsal 28:12 Amsal 28:13 Amsal 28:14 Amsal 28:15 Amsal 28:16 Amsal 28:17 Amsal 28:18 Amsal 28:19 Amsal 28:20 Amsal 28:21 Amsal 28:22 Amsal 28:23 Amsal 28:24 Amsal 28:25 Amsal 28:26 Amsal 28:27 Amsal 28:28



Amsal 28:27 (IDN): “Orang yang memberi kepada orang miskin ia itu tiada akan merasai kekurangan, tetapi orang yang mengejamkam matanya itu akan kena banyak laknat kelak.”
Ayat ini menegaskan prinsip moral yang jelas: kemurahan hati kepada yang membutuhkan membawa pemeliharaan Ilahi bagi pelakunya, sementara keengganan memberi membawa berkat kutuk. Hikmat Pengkhotbah adalah untuk bertindak dengan kedermawanan, karena Allah melihat hati dan perbuatan kita terhadap sesama manusia.
Konteks sastra
Amsal ini berada dalam rangkaian pepatah tentang kebenaran moral dan konsekuensi tindakan. Penekanan pada tindakan memberi menonjolkan hubungan antara iman dan perbuatan; kasih kepada fakir miskin bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan manifestasi hidup yang benar di hadapan Tuhan. Ayat ini berfungsi sebagai perlindungan praktis bagi mereka yang lemah dan sebagai peringatan bagi yang pelit: kemurahan hati adalah benteng terhadap kekurangan rohani yang lebih besar.
Signifikansi teologis
Dalam pandangan Alkitab, memberi kepada fakir adalah bagian dari hidup selaku umat berikrar kepada Tuhan. Ketika seseorang berbagi belas kasihan, ia memperlihatkan identitas Allah yang dermawan. Ayat ini menegaskan bahwa Allah membalaskan kebaikan dengan kesejahteraan; bukan sekadar balasan materi, tetapi juga pemulihan hak-hak hidup dan kedamaian batin. Namun, konteks kitab Amsal juga menunjukkan bahwa pelaksanaan keadilan sosial tidak dapat dipisahkan dari ketulusan hati: Tuhan melihat niat di balik tindakan.
Rujukan silang yang relevan
Pertanyaan refleksi
Penutup ringkas
Amsal 28:27 menegaskan asas praktis iman: kemurahan hati kepada yang miskin adalah jalan untuk tidak mengalami kekurangan, sementara kekakuan hati terhadap sesama menimbulkan konsekuensi rohani. Dalam kehidupan beriman, tindakan memberi adalah penanda hubungan kita dengan Allah—bukan sekadar kewajiban moral, melainkan ekspresi kasih Allah yang berkelimpahan.
Catatan editorial
Beberapa komentator publik domain menyoroti bahwa hikmah di balik ayat ini meliputi aspek keadilan sosial dan integritas hati. Kutipan langsung dari sumber-sumber terkenal seperti Matthew Henry, Albert Barnes, dan Adam Clarke diakui jika relevan, namun di sini fokus utama adalah penyampaian makna praktis bagi pembaca Bahasa Indonesia tanpa membatasi pemahaman teologis.