Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Amsal 27:1 Amsal 27:2 Amsal 27:3 Amsal 27:4 Amsal 27:5 Amsal 27:6 Amsal 27:7 Amsal 27:8 Amsal 27:9 Amsal 27:10 Amsal 27:11 Amsal 27:12 Amsal 27:13 Amsal 27:14 Amsal 27:15 Amsal 27:16 Amsal 27:17 Amsal 27:18 Amsal 27:19 Amsal 27:20 Amsal 27:21 Amsal 27:22 Amsal 27:23 Amsal 27:24 Amsal 27:25 Amsal 27:26 Amsal 27:27



Inti_repeat: Makna Ayat
Inti makna: Firman ini menyatakan bahwa hasrat manusia tidak pernah puas; seperti neraka dan kehancuran yang selalu haus, demikian pula mata manusia yang terus mencari kekayaan, kenyamanan, atau kepuasan hidup yang bersifat duniawi tanpa batas.
Latar konteks
Amsal 27:20 menukil pola kebijaksanaan umum Yudasiah tentang kecenderungan manusia terhadap keserakahan dan keterikatan pada hal-hal sementara. Kitab Amsal menekankan kebijaksanaan praktis dalam menjalani hidup; banyak nasihatnya menunjukkan bahwa imbalan materi tidak menjamin kepuasan batin maupun keselamatan sejati.
Observasi interpretatif
Garis tema singkat
Relasi silang dengan bagian lain
- Ayat-ayat tentang kekayaan dan kebahagiaan yang benar (mis. Amsal 23:4-5) mengingatkan agar tidak menjadikan kekayaan sebagai tujuan utama. - Perhatian terhadap hati yang setia kepada Tuhan (Mazmur 119:36) menggarisbawahi kepuasan sejati berada pada hubungan dengan Allah. - Amsal 21:26 menyoroti perbedaan antara hasrat yang cerdas dan ketamakan yang merusak; keduanya menimbang bagaimana kita menilai kebutuhan hidup.
Konteks penafsiran historis
Penulis Amsal menonjolkan keseimbangan antara kerja keras dan kebijaksanaan hidup. Nasihat ini mengingatkan pembaca bahwa dorongan berlebihan untuk memiliki hal-hal duniawi dapat menggerogoti kepuasan batin dan integritas rohani.
Penjelasan praktis
Ambil pelajaran untuk menjaga batas konsumsi, mengevaluasi motivasi di balik keinginan materi, dan menaruh kepuasan pada hubungan dengan Tuhan serta pelayanan kepada sesama. Hidup yang bijaksana adalah hidup yang tidak tunduk pada ketamakan, melainkan hidup yang mencari keadilan, kasih, dan ketenangan batin.
Rujukan silang dengan penjelasan singkat
Inti praktis yang singkat
Belajar membatasi hasrat materi, mengejar kebijaksanaan, dan menaruh harapan pada Allah, bukan pada kekayaan yang fana.
Pernyataan ini mencerminkan gaya para komentator gereja masa lalu. Kutipan singkat yang relevan: “Neraka dan kebinasaan tak pernah kenyang” — bentuk ukuran kebijaksanaan yang mengajak kita menjaga hati agar tidak terlalu tergantung pada hal-hal duniawi. Catatan: kutipan langsung dari Matthew Henry, Albert Barnes, atau Adam Clarke tidak tersedia dalam bentuk panjang pada teks ini; bagian ini mengingatkan kita pada nuansa umum yang mereka tekankan tentang ketamakan dan kepuasan rohani.