Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Amsal 30:1 Amsal 30:2 Amsal 30:3 Amsal 30:4 Amsal 30:5 Amsal 30:6 Amsal 30:7 Amsal 30:8 Amsal 30:9 Amsal 30:10 Amsal 30:11 Amsal 30:12 Amsal 30:13 Amsal 30:14 Amsal 30:15 Amsal 30:16 Amsal 30:17 Amsal 30:18 Amsal 30:19 Amsal 30:20 Amsal 30:21 Amsal 30:22 Amsal 30:23 Amsal 30:24 Amsal 30:25 Amsal 30:26 Amsal 30:27 Amsal 30:28 Amsal 30:29 Amsal 30:30 Amsal 30:31 Amsal 30:32 Amsal 30:33



Amsal 30:15 (IDN) — “Pada si lintah adalah dua anaknya…”
Imbangan nasihat Amsal 30:15 menempatkan kita di bawah renungan tentang keinginan yang tidak pernah selesai dan kebiasaan manusia yang menuntut lebih. Kutipan tentang lintah dan tiga perkara yang tiada tahu kenyang, mencerminkan gambaran kontras antara kelalaian manusia dan batasan ilahi. Penulis Amsal menempatkan sikap tamak dan serakah dalam konteks pengingat bahwa beberapa hal tidak pernah memuaskan.
setting langsung teks
Ayat ini memulai dengan gambaran metaforis: “Pada si lintah adalah dua anaknya, ia ini: Berilah! berilah!” Lintah menjadi simbol keinginan tanpa batas. Lintah, hewan yang menunggu dan mengisap terus, melambangkan godaan untuk terus mengemis tanpa pernah merasa kenyang. Ayat berikutnya menyebut empat perkara yang “tiada pernah berkata demikian: Telah cukuplah sudah!”—menarik garis batas bagi kebutuhan manusia yang seharusnya dipangkas oleh kebijaksanaan Tuhan.
apa yang ditegaskan tentang Allah dan iman
Melalui perbandingan ini, penulis menegaskan batasan ciptaan terhadap kenyang duniawi. Allah menggariskan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipenuhi oleh pemenuh kenyataan selain Tuhan. Iman menuntun kita untuk mengenali batas antara kebutuhan yang sah dengan keinginan yang berlebihan. Tuhan tetap setia menyediakan yang cukup bagi yang hidup dalam ketergantungan kepada-Nya, sehingga dorongan untuk “berilah” tidak berujung pada pemborosan melainkan keadilan dan kesejahteraan sesama.
kosa kata dan gambaran penting
hubung-hubungan Alkitab yang relevan
Beberapa ayat lain memperlihatkan tema serupa tentang kepuasan dan ketergantungan pada Tuhan:
penerapan bagi kehidupan umat percaya saat ini
Sehari-hari kita dihadapkan pada godaan untuk terus-menerus memenuhi kebutuhan dengan cara yang berlebihan atau mengikuti standar dunia tentang “cukup” yang selalu berubah. Pelajaran dari Amsal 30:15 mengajak kita menyelaraskan hasrat dengan hikmat. Maka:
kutipan singkat yang relevan
Beberapa catatan pendapat para komentator terdahulu yang membantu memahami inti nasihat ini:
Matthew Henry menekankan bahwa nasihat ini mengingatkan tentang sifat manusia yang selalu menginginkan lebih ketika tidak mengarahkan hasrat kepada Tuhan (tanpa mengutip panjang). Albert Barnes menyoroti bahwa keberanian untuk berkata cukup tidak datang dari manusia, melainkan dari keseimbangan rohani yang diberikan Tuhan. Adam Clarke meninjau gambar lintah sebagai metafora keserakahan yang tidak pernah memuaskan, mengingatkan kita akan kehati-hatian terhadap hasrat duniawi. Catatan-catatan ini menegaskan bahwa kepuasan sejati hanya ditemukan dalam kehidupan yang mengarahkan semua keinginan kepada Tuhan. (Kutipan singkat dari para komentator tidak menampilkan teks lengkap ayat asli.)
Referensi silang: Amsal 27:20; I Timotius 6:6–8; I Yohanes 2:15–17 untuk memperluas pemahaman tentang bahaya ketamakan dan kepuasan palsu.