Old Testament
Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia MaleakhiVerse
Amsal 27:1 Amsal 27:2 Amsal 27:3 Amsal 27:4 Amsal 27:5 Amsal 27:6 Amsal 27:7 Amsal 27:8 Amsal 27:9 Amsal 27:10 Amsal 27:11 Amsal 27:12 Amsal 27:13 Amsal 27:14 Amsal 27:15 Amsal 27:16 Amsal 27:17 Amsal 27:18 Amsal 27:19 Amsal 27:20 Amsal 27:21 Amsal 27:22 Amsal 27:23 Amsal 27:24 Amsal 27:25 Amsal 27:26 Amsal 27:27



Amsal 27:18 (IDN) – “Orang yang memeliharakan pokok ara ia itu akan makan buahnya; orang yang menunggui tuannya itu akan mendapat kemuliaan.”
Setting segera: Ayat ini berada dalam kumpulan pepatah bijak yang menekankan hubungan antara kerja keras, tanggung jawab, dan penghormatan. Perumpamaan mengenai pokok ara mengaitkan peliharaannya dengan hasil buahnya, sementara menjaga tuannya membawa kemuliaan. Pesaing utama dalam konteks kebijaksanaan Amsal adalah hubungan antara kesetiaan, kerja keras, dan pengakuan sosial di kalangan komunitas orang percaya.
Makna teologis dan iman
Amsal ini menegaskan prinsip umum: usaha yang setia terhadap hal-hal kecil dan tanggung jawab konsisten menghasilkan buah dan pengakuan. Dalam konteks iman, ini mencerminkan cara Tuhan memandang kerja keras yang penuh integritas dan loyalitas dalam segala bidang kehidupan. Penting untuk melihat bahwa “memelihara pokok ara” adalah tindakan perawatan yang berkelanjutan; buah tidak datang sekadar dari niat baik, melainkan dari disiplin dan perhatian rutin yang berakar pada rasa takut akan Tuhan.
Kata kunci dan gambaran penting
Rujukan silang yang relevan
Interpretasi para penafsir terdahulu
Para penafsir berpendapat bahwa perumpamaan ini mengajak pembaca untuk menghargai disiplin dan tanggung jawab. Dari karya Adam Clarke dan Albert Barnes, garis besar menekankan bahwa kemuliaan datang sebagai buah dari kesetiaan yang terus-menerus, bukan dari upaya sesaat. Matthew Henry menekankan bahwa “memelihara pokok” adalah tindakan menjaga sumber pengharapan dan berkat Tuhan dengan kerja yang setia. Kutipan singkat dari karya klasik berbahasa Inggris mungkin terdengar demikian: Henry menekankan pentingnya menjaga kebiasaan yang membuahkan buah; Barnes menyoroti kemuliaan sebagai buah dari loyalitas; Clarke menekankan bahwa buah itu adalah hasil natural dari tindakan yang berakar pada kebajikan.
Makna praktis bagi zaman sekarang
Dalam kehidupan sehari-hari, ayat ini mengingatkan kita untuk menjaga proses yang membawa berkat: disiplin pekerjaan, perawatan hubungan, dan pelayanan yang konsisten. Allah menghargai komitmen pada hal-hal kecil—membangun karakter yang bertahan, sehingga buah nyata bisa dinikmati, baik bagi diri sendiri maupun komunitas iman. Dalam bekerja, belajar, maupun melayani, kita diajak untuk menanam akar yang kuat dalam ketaatan kepada Tuhan.
Hubungan dengan karya rohani lainnya menguatkan pola ini: berkat Allah sering datang melalui jalan kerja keras yang setia. Oleh karena itu, dorong diri untuk konsisten, jaga komitmen, dan biarkan buah ketekunan memuliakan Tuhan.